MAKALAH tentang JIT (Just in time) kelompok 3



Description: D:\Tesis Dan Skripsi\Logo_IAIN_Batusangkar.jpg




TUGAS MAKALAH KELOMPOK 3
AKUNTANSI MANAJEMEN
TENTANG
JIT (JUST IN TIME)
OLEH :
             Hamdani Putra                                 (1630402043)
Muhamad Yusuf                               (1630402063)
  Muhammad Ilham                            (1630402066)          
  Mulia Ramdani                                    (1630402069)
                                    Mulya Yuhanda                                (1630402070)
                                    Novi Safitri                                        (1630402078)
 Novri Zaki Rahman                         (1630402080)

DOSEN :
Mega Rahmi, SE,Sy., M. Si
JURUSAN EKONOMI SYARI’AH KONSENTRASI AKUNTANSI SYARI’AH
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
BATUSANGKAR
2018

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Operasi JIT merupakan suatu pendekatan untuk mengidentifikasi dan mengeliminasi segala macam sumber pemborosan dalam aktivitas produksi, dengan memberikan komponen produksi yang tepat serta pada waktu dan tempat yang tepat. Operasi JIT memproduksi komponen produksi tepat pada waktu memenuhi kebutuhan produksi, sedangkan Operasi Tradisional memproduksi komponen produksi dalam jumlah besar dengan maksud untuk mengantisipasi kalau- kalau terjadi sesuatu.
Dalam kondisi yang ideal, perusahaan yang menjalankan sistem JIT akan membeli bahan baku hanya untuk kebutuhan hari itu saja. Lebih lanjut, perusahaan tidak memiliki persediaan barang dalam proses pada akhir hari tersebut, dan semua barang jadi yang diselesaikan hari itu telah dikirimkan kepada para pelanggan begitu produk selesai. Dengan pola seperti itu, JIT berarti bahwa bahan baku diterima miring segera masuk ke proses produksi, bahan-bahan produksi yang lain segera digabungkan dan di kerjakan, dan produk yang telah jadi segera dikirimkan kepada pelanggan.
Kemajuan teknologi yang sangat pesat, pada perusahaan manufaktur mengakibatkan berkurangnya pemakaian tenaga kerja langsung disatu sisi, namun disisi lain memerlukan pengeluaran investasi yang relative besar untuk menggunakan peralatan modern. Karena keterbatasan dana masih banyak perusahaan yang menggunakan prosedur yang tradisional untuk menghadapi kemajuan teknologi itu sendiri. Namun masyarakat di Negara maju seperti Jepang khususnya komunitas manufaktur mulai mengembangkan suatu system yang disebut Just In Time, dimana sistem ini dilatar belakangi oleh pemborosan- pemborosan tenaga kerja, ruangan dan waktu industri, yang terjadi dikarenakan adanya persediaan (inventory) sehingga biaya produksi menjadi lebih tinggi.
B.     Rumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dapat dirumuskan masalahnya yaitu sebagai berikut:
1.      Apa itu konsep Just In Time (JIT)?
2.      Bagaimana implikasi konsep Just In Time (JIT)?
3.      Apa saja element-element kunci Just In Time (JIT)?
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Konsep Dasar JIT (Just in Time)
1.      Pengertian JIT (Just In Time)
Sistem produksi just in time pada awalnya dikembangkan dan di promosikan oleh Toyota Motor Corporation di Jepang. Strategi ini kemudian banyak diabdosi oleh banyak perusahaan Jepang, terutama setelah terjadinya krisis minyak dunia pada tahun 1973. Tujuan utama dari diterapkannya system produksi just in time ini adalah mengurangi ongkos produksi dan meningkatkan produktivitas total industry secara keseluruhan dengan cara menghilangkan pemborosan (waste) secara terus-menerus (john A. White : Production Hand Book, Georgia Institute of Technology, 1987). Sasaran dari strategi produksi just in time (JIT) adalah reduksi biaya dan meningkatkan arus perputaran modal (Capital turnover ratio) dengan jalan menghilangkan setiap pemborosan (waste) dalam system industry. JIT harus dipandang sebagai suatu yang lebih luas dari pada sekedar suatu program pengendalian inventori. (Sulastri, 2012)
Sistem just in time merupakan salah satu konsep lean yang dijalankan dengan menggunakan pull system. Menurut Haizer dan Render (2010), just in time menjadi sebuah alat bantu (tools) yang sangat baik bagi perusahaan untuk mengurangi terjadinya waste dan faktor –faktor perubahan yang tidak diinginkan. Just in time dikembangkan dalam rangka merealisasikan konsep Toyota yaitu menghilangkan hal-hal yang tidak berguna terutama yang berhubungan dengan persediaan dan kelebihan produksi. Konsep just in time yaitu memproduksi bahan yang dibutuhkan dalam jumlah yang diperlukan dan pada saat yang dibutuhkan. Untuk mencapai sasaran, just in time dilandaskan pada sistem untuk menentukan metode produksi dan sistem kanban.
Just In Time ( JIT ) adalah filosofi yang merupakan suatu paradigma baru dari strategi bisnis bergeser dari manajemen persediaan tradisional ke manajemen rantai pasokan berbasis web yang meningkatkan perputaran persediaan dan mengurangi penumpukan persediaan. JIT merupakan suatu konsep yang dapat diterapkan pada banyak aspek dari bisnis selain persediaan.Sistem pemanufakturan tradisional mengatur jadwal produksinya berdasarkan pada peramalan kebutuhan
dimasa yang akan datang dengan pasti walaupun ia memiliki pemahaman yang sempurna tentang masa lalu dan memiliki insting yang tajam terhadap kecenderungan yang terjadi di pasar. (Madianto, 2016)
 JIT tergantung pada logistik termasuk transportasi, pergudangan dan beberapa strategi untuk menangani ketidak pastian pasokan rantai potensial. (Soewarno, 2005)
Persediaan merupakan suatu aktiva yang meliputi barang-barang milik perusahaan dengan maksud untuk dijual dalam suatu periode usaha yang normal atau persediaan barang-barang yang masih dalam proses ataupun persediaan bahan baku. Persediaan merupakan salah satu aset paling mahal dan harus ada keseimbangan antara investasi persediaan dan tingkat pelayanan konsumen. Dari itulah timbul yang namanya konsep just in time adalah suatu konsep di mana bahan baku yang digunakan untuk aktifitas produksi didatangkan dari pemasok atau suplier tepat pada waktu bahan itu dibutuhkan oleh proses produksi, sehingga akan sangat menghemat bahkan meniadakan biaya persediaan barang/penyimpanan barang/ stocking cost. Tujuan utama just in time adalah untuk meningkatkan laba dan posisi persaingan perusahaan yang dicapai melalui usaha pengendalian biaya, peningkatan kualitas, serta perbaikan kinerja pengiriman. (Mowen, 2006)
JIT sasaran utamanya adalah meningkatkan produktivitas sistem produksi atau operasi dengan cara menghilangkan semua kegiatan yang tidak menambah nilai bagi suatu produk, karena JIT merupakan suatu filosofi manajemen operasi yang berusaha untuk menghilangkan pemborosan pada semua aspek dari kegiatan-kegiatan produksi perusahaan.
Just in time merupakan salah satu konsep yang mendukung manajemen biaya untuk mengantisipasi perubahan yang terjadi di lingkungan industri sebagai akibat kemajuan teknologi dan otomatisasi. Dalam konsep JIT dilakukan eliminasi biaya melalui eliminasi jumlah persediaan (persediaan = 0). Eliminasi jumlah persediaan ini secara otomatis menghilangkan biaya penyimpanan dan transportasi serta sekaligus mengakibatkan penurunan tingkat toleransi terhadap kesalahan produk.

2.      Penerapan Just-In-Time
Dalam menerapkan Just-In-Time, perusahaan harus melakukan beberapa hal untuk menunjang proses penerapan Just-In-Time. Tujuannya adalah agar proses penerapan Just-In-time dapat berjalan dengan lancar dan cepat. Hal pertama yang harus dilakukan adalah mengedukasi dan melatih seluruh pihak yang ada dalam perusahaan.
Hal ini perlu dilakukan agar pihak-pihak tersebut mengerti konsep dasar mengenai Just-In-Time dan agar mereka mengerti maksud dan tujuan perusahaan untuk menerapkan Just-In-Time.  (Garrison, 2013)
Dengan kemampuan dan pemahaman yang baik mengenai Just-In-time, maka seluruh pihak yang ada dapat membantu memperlancar proses penerapan Just-In Time dalam perusahaan.
Hal lain yang harus dilakukan adalah menjadikan kualitas sebagai prioritas. Kualitas harus dijadikan prioritas karena sesuai dengan prinsip Just-In-Time yang mementingkan efisiensi namun tetap memperhatikan kualitas. Hal ini dikarenakan walaupun semua kegiatan yang ada dilakukan tepat waktu, tanpa kualitas yang baik semua yang dilakukan oleh perusahaan tentu menjadi sia-sia.
Prioritas terhadap kualitas juga ditekankan karena sedikitnya persediaan yang dimiliki. Dengan sedikitnya persediaan, maka tingkat kesalahan juga harus diminimalkan. Jika timbul kesalahan, belum tentu persediaan yang ada dapat digunakan untuk menutup kesalahan tersebut. Hal berikut yang harus dilakukan adalah menjadikan para pekerja memiliki kemampuan yang beragam dan handal. Oleh karena itu, para pekerja yang ada dapat melakukan beberapa pekerjaan, tidah hanya terbatas pada bidang tertentu. Hal ini akan mendatangkan efisiensi bagi perusahaan karena beberapa pekerjaan dapat ditangani oleh satu orang, sehingga perusahaan tidak perlu mempekerjakan banyak pekerja.
Persediaan juga perlu diperhatikan, sesuai prinsip Just-In-time, maka persediaan yang dimiliki oleh perusahaan harus seminimum mungkin, bahkan jika mungkin tidak memiliki persediaan. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dengan menekan biaya untuk menjalankan gudang-gudang yang ada. Selain itu, dengan sedikitnya persediaan, maka resiko kerusakan barang, baik bahan baku dan barang jadi dapat dikurangi. Jumlah pemasok yang dimiliki perusahaan juga harus dikurangi. Hal ini bertujuan untuk memilih pemasok-pemasok yang dapat membantu perusahaan dalam menerapkan metode Just-In-Time. Pemasok-pemasok yang akan dimiliki oleh perusahaan nantinya akan berjumlah sedikit. Para pemasok tersebut juga harus diikat dengan kontrak jangka panjang agar nantinya kegiatan operasi perusahaan tidak terhambat dan dapat tepat waktu. (Sukendar, 2011)



3.      Proses dan Manfaat Just In Time
Sistem just in time seringpula diidentikkan dengan usaha untuk menghilangkan
pemborosan produksi (waste products) yang disebabkan oleh produk cacat maupun
produk rusak. Disamping itu sistem JIT diidentikkan pula dengan sistem
persediaan tepat waktu dan sistem produksi tepat waktu.
Kondisi yang disyaratkan untuk menerapkan sistem JIT dalam sistem sediaan tepat waktu diantaranya adalah:
a.       Waktu dan biaya pemesanan maupun biaya set-up kecil.
b.      Jumlah pemesanan mendekati satu.
c.       Tenggang waktu (lead time) minimum.
d.      Beban kerja antar departemen atau mesin seimbang.
e.       Tidak ada waktu tunda akibat kualitas produk yang rendah, ketiadaan suplay bahan,
kerusakan mesin, perubahan desain dan sebagainya.
Persyaratan tersebut di atas sangat tidak mungkin untuk dicapai, namun demikian sistem JIT berusaha memberikan stimulasi atau rangsangan agar kondisi yang ada dapatmendekati kondisi ideal.
Strategi produksi just in time (JIT) diterapkan pada seluruh sistem industri modern sejak proses rekayasa (engineering), pemesanan material dari pemasok (supplier), manajemenmaterial dalam industri, proses fabrikasi industri, sampai distribusi produk industrikepada pelanggan. Tampak bahwa sistem industri modern berorientasi pada kepuasanpelanggan dengan jalan mengintegrasikan ketiga komponen utama, yaitu: pemasokmaterial (input), proses fabrikasi (factory process), dan pelanggan (customers) sebagai satu sistem yang utuh. (Rahayu, 2005)
4.      Tujuan Penerapan Sistem JIT
Tujuan utama just in time adalah menghilangkan pemborosan melalui perbaikan terus menerus (continous improvement). Dibawah filosofi just in time, segala sesuatu baik material, mesin dan peralatan, sumber daya manusia, modal, informasi, manajerial,
proses, dan lain-lain yang tidak memberikan nilai tambah pada produk disebut
pemborosan (waste). Nilai tambah produk, merupakan kata kunci dalam JIT.
Nilai tambah produk diperoleh hanya melalui aktivitas aktual yang dilakukan langsung pada produk, dan tidak melalui: pemindahan, penyimpanan, penghitungan, dan penyortiran produk. Pemindahan, penyimpanan, penghitungan, dan penyortiran produk tidak menambah nilai pada produk itu, tetapi merupakan biaya, dan biaya yang dikeluarkan tanpa memberikan nilai tambah pada produk merupakan pemborosan (waste).
Pada dasarnya sistem produksi just in time mempunyai enam tujuan dasar sebagai berikut:
a.       Mengintegrasikan dan mengoptimumkan setiap langkah dalam proses manufakturing.
b.      Menghasilkan produk berkualitas sesuai keinginan pelanggan.
c.       Menurunkan ongkos manufakturing secara terus menerus.
d.      Menghasilkan produk hanya berdasarkan permintaan pelanggan.
e.       Mengembangkan fleksibilitas manufacturing.
f.       Mempertahankan komitmen tinggi untuk bekerja sama dengan pemasok dan
pelanggan.
5.      Karakteristik Dasar Just In Time (JIT)
Hansen & Mowen (2005:479) menyatakan ada beberapa karakteristik dasar Just In Time (JIT):

a.       Tata letak pabrik
Just In Time (JIT) mengganti tata letak pabrik tradisional ini dengan suatu pola sel manufaktur. Sel manufaktur terdiri dari mesin-mesin yang dikelompokkan dalam kumpulan, biasanya dalam bentuk setengah lingkaran. Mesin-mesin diatur sehingga mereka dapat digunakan untuk melakukan berbagai operasi secara berurutan. Tiap sel dipersiapkan untuk menghasilkan produk atau kumpulan produk tertentu. Produk dipindah dari satu mesin ke yang lainnya dari awal hingga selesai. Para pekerja ditugaskan pada sel-sel dan dilatih untuk mengoperasikan semua mesin dalam sel.

b.      Pengelompokkan dan pemberdayaan karyawan
Pelatihan pekerja sel untuk melakukan tugas-tugas ganda juga memiliki pengaruh pada relokasi dukungan pelayanan pada sel.
Sebagai tambahan dari pekerjaan produksi langsung, para pekerja sel dapat melakukan tugas persiapan, memindahkan barang setengah jadi dari bagian ke bagian lain dalam sel, melakukan perawatan pencegahan dan perbaikan kecil, melakukan inspeksi kualitas, dan melakukan tugas pembersihan. Kemampuan multitugas ini secara langsung berhubungan pada pendekatan tarikan melalui produksi.
c.       Total quality control
Just In Time (JIT) perlu memberikan tekanan yang lebih kuat pada pengelolaan kualitas. Total quality control pada intinya adalah suatu pengerjaan tanpa henti untuk suatu kualitas sempurna, usaha untuk mendapatkan suatu desain produk dan proses manufaktur tanpa cacat.
d.      Ketelusuran biaya overhead
Suatu sistem pembiayaan menggunakan tiga metode untuk membebankan biaya pada produk individual: penelusuran langsung, penelusuran penggerak, dan alokasi. Dari ketiga metode, penelusuran langsung adalah yang paling akurat dan, sehingga, lebih disukai daripada dua metode lainnya.

e.       Pengaruh persediaan

Just In Time (JIT) umumnya menurunkan persediaan hingga tingkat yang sangat rendah. Pencapaian terhadap tingkat yang tidak signifikan dari persediaan adalah vital bagi kesuksesan Just In Time. Just In Time (JIT) menolak untuk menggunakan persediaan sebagai solusi dari masalah-masalah ini. Bahkan, persediaan tidak hanya dipandang sebagai pemborosan namun sebagai sesuatu yang langsung berhubungan dengan kemampuan perusahaan untuk bersaing.

B.     Implikasi Konsep JIT (Just In Time)
Mengimplementasi Just-In-Time bukan merupakan pekerjaan yang mudah, sebagai contoh, Toyota membutuhkan waktu dua puluh tahun untuk mengimplemetasi Just-In-time. Petroff (1993) mengatakan hal-hal yang harus dilakukan untuk mengimplementasikan Just-In-time adalah: mengedukasi dan melatih manajer dan eksekutif; menjadikan kualitas sebagai prioritas; memperbolehkan pekerja dan mesin tidak bekerja saat tidak ada pekerjaan; menjadikan pekerja menjadi pekerja yang handal; mengadopsi pengukuran kinerja Just-In-time; mengatur persediaan dan safety stock dengan Just-In-Time. Selain itu, dalam buku tersebut juga disebutkan bahwa pemasok dan pekerja harus diperlukan sebagai bagian dari perusahaan yang penting, bukan sebagai musuh.
Impilikasi JIT
1.      JIT sederhana dalam teori, namun sangat sulit diwujudkan terutama dalam manufaktur.
2.      Salah satu alasan utama banyak perusahaan enggan menerapkan JIT adalah dengan ketiadaan barang dalam proses, disertai kekhawatiran seluruh proses produksi akan terhenti bilamana suatu masalah muncul pada salah satu rantai proses produksi.
3.      Perusahaan yang tidak menerapkan JIT hendaknya terlebiih dahulu menghilangkan seluruh hal yang berpotensi menjadi penyebab kegagalan sistem antara lalin dangan cara:
a)      Mendesain kembali proses produksi sehingga tidak menimbulkan biaya tinggi bila hendak memprodusi suatu atau sejumlah kecil item produk pada saat tertentu.
b)      Alternatif yang biasa dilakukan untuk mengurangi biaya adalah dengan memperpendek jarak proses, memperkerjakan pegawai yang memililki kempuan beradaptasi dengan  tuntunan tugas baru dan menggunakan peralatan yang seba guna.
4.      Inti utama dari sistem JIT adalah para pegawai yang sangat terlatih dan senantiasa mampu memenuhi tuntunan untuk mencapai standar kualitas produk/jasa tertinggi
5.      Bilamana seorang pekerja mempuyai masalah pada komponen produk yang diterimanya, maka pekerja yang bersangkutan berkewajiban untuk segera melaporkan hal tersebut pada atasanya agar dapat diambil tindakan yang diperlukan.
6.      Para pemasok dituntut aagar mampu memproduksi segaligus mengirimkan produk yang bebes cacat (free defect) kapan jasa diperlukan.
7.      Impikasi JIT pada sistem akuntannsi manajemen:
a)      Bagian akuntansi manajemen wajib mendukung peralihan sistem konvensional menuju sistem JIT dengan cara melakukan pemantauan, identifikasi dan komunikasi pada para pengambil keputusan mengenai asal-muasal/sumber penundaan (delay), kesalahan (error) dan pemborosan (waste)
b)      Kegiatan klerikal akuntansi manajemen menjadi lebih sederhana, karena berkurangnya mutasi persediaan yang dipantau.
8.      Untuk mengukur tingkat reabilitas sistem JIT memanfaatkan ukuran berikut ini sebagai patok duga (bench mark) efektifitas siklus manufaktur, antara lain:
a)      Defech rate
b)      Cycle time
c)      Propentasi ketetapan waktu pengiriman produk pada pelanggan
d)     Akuntansi pemerintah produk pada pelanggan
e)      Perbandinggan antara produksi aktual dengan rencana produksi
f)       Perbandingan antara jam mesin aktual dengan jam mesin yang tersedia
9.      Rasio produktifitas manajemen termasuk JIT memerlukan perubahan kultur organisasi secara keseluruhan,sestem dengan filosofi JIT.
10.  Inovasi manajemen, termasuk JIT memerlukan perubahan kultur organisasi secara keseluruhan, contohnya:
a)      JIT dapat menguabah irma kerja dan disiplin kerja organisai secara keseluruhan
b)      Perombakan  tata letak pabrik (plan lay out) untuk membentuk shop, sangat mungkin memerlukan renovasi besar-besaran yang harus diperhitungkan sebagai investsi.
11.  Karena ide dasar JIT adalah minimalisasi pemborosan sekaligus keseragaman alur kerja, menyebabkan banyak pekerja yang tidak siap dengan perubahan tersebut. Karenanya sosialisasi penerapan JIT harus dilakukan jauh sebelum hari-H
12.  JIT sangat menekankan kerja sama tim, maka kerap dijumpai pekerja yang mengalami stress, terutama mereka yang berasal dari lingkungan kerja yang selama ini terisolasi atau mereka yanag memiliki kepribadian yang tidak team  orinted. (Witjaksono, 2013)
Pengembangan strategi untuk implementasi sistem produksi just in time dimaksudkan
untuk menjamin bahwa transisi ke dalam sistem just in time akan berjalan mulus dan
konsisten. Pengembangan strategi merupakan suatu proses evaluasi terhadap perubahanperubahan yang harus dibuat dan penetapan prioritas untuk implementasi just in time.
Strategi implementasi just in time mengharuskan adanya perubahan tanggung-jawab dari
masing-masing departemen atau fungsi dalam industri dengan berfokus pada perbaikan
terus menerus pada aspek kualitas, biaya dan jadwal. Apabila setiap fungsi dalam proses
manufacturing di atas konsisten melaksanakan just in time dengan menunjukkan
komitmen tinggi dalam melaksanakan tanggung jawabnya, diharapkan bahwa
implementasi just in time akan memberikan hasil-hasil yang memuaskan. Sistem just in
time
merupakan suatu pendekatan komprehensif yang melibatkan manajemen puncak dan
semua karyawan dalam organisasi, untuk mencapai keunggulan kompetitif di pasar
global. (Rahayu, 2005)
Berdasarkan uraian yang dikemukakan di atas, dapat dikembangkan langkah-langkah
strategi implementasi JIT dalam sistem produksi, sebagai berikut:
a.       Memperoleh komitmen dari manajemen puncak. Tanpa komitmen dari manajemen puncak, implementasi dari JIT menjadi tidak efektif dan efisien.
b.      Membentuk komite pengarah (steering committee) atau koordinator implementasi just
in time
. Komite ini akan memantau proses implementasi just in time agar sesuai
dengan perencanaan untuk mencapai sasaran perbaikan terus-menerus yang
diinginkan.
c.       Membangun tim kerja sama dan partisipasi total dari semua tingkatan manajemen dan
karyawan untuk bekerja sama mencapai sasaran jangka panjang seperti tingkat
kecacatan nol (zero defect), tingkat inventori minimum (zero inventory), kepuasan
pelanggan 100%, dan lain-lain.
d.      Mendefinisikan rantai proses bernilai tambah, kemudian mendefinisikan proses kerja
dengan menggunakan diagram alir proses. Berdasarkan hal ini kemudian diusahakan
untuk menurunkan cycle time dari proses, menyeimbangkan lini proses dengan tenaga
kerja dan fasilitas yang ada.
e.       Mengembangkan sistem belajar terus menerus melalui pendidikan dan pelatihan yang
berfokus pada perbaikan terus menerus terhadap proses, kualitas, produktivitas, dan
profitabilitas.
f.       Mengidentifikasi hasil dari setiap proses, menggunakan diagram pareto untuk
mengidentifikasi masalah-masalah utama dalam proses, dan mengembangkan
tindakan perbaikan terus menerus untuk menghilangkan akar penyebab dari masalahmasalah dalam proses.
g.       Menerapkan sistem penjadwalan linear (linear scheduling) untuk mencapai kuantitas
yang sama dan seimbang dari setiap proses kerja, operasi dan pergantian kerja (shift).
h.      Mengembangkan sistem jaminan kualitas dan produktivitas yang berfokus pada
eliminasi masalah-masalah kualitas dan produktivitas. Berdasarkan hal ini, diharapkan
performansi perusahaan akan meningkat terus menerus.
i.        Mengembangkan sistem audit untuk melaksanakan proses auditing secara teratur
terhadap sistem just in time. Hal ini dimaksudkan untuk menjamin efektivitas dan
efisiensi penerapan sistem just in time dalam perusahaan industri.
Strategi Penerapan pembelian Just in Time. Dukungan, yaitu dari semua pihak terutama yang berkaitan dengan kegiatan pembelian, dan khususnya dukungan dari pimpinan. Tanpa ada komitmen dari pimpinan tersebut JIT tidak dapat terlaksana. Mengubah sistem, yaitu mengubah cara mengadakan pembelian, yaitu dengan membuat kontrak jangka panjang dengan pemasok sehingga perusahaan cukup hanya memesan sekali untuk jangka panjang, selanjutnya barang akan datang sesuai kebutuhan atau proses produksi perubahan diperusahaan.
Strategi penerapan Just in Time dalam sistem produksi. Penemuan sistem produksi yang tepat, yaitu dengan sistem tarik yang bertujuan memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggan dengan menghilangkan sebanyak mungkin pemborosan. Penemuan lini produksi yaitu dalam satu lini produksi harus dibuat bermacam-macam barang, sehingga semua kebutuhan pelanggan yang berbeda-beda itu dapat terpenuhi. Selain itu lini produksi tersebut dapat menghemat biaya, biaya bahan, persediaan, dan sebagainya. JIT bukan hanya sekedar metode pengedalian persediaan, tetapi juga merupakan sistem produksi yang saling berkaitan dengan semua fungsi dan aktivitas.


C.     Elemen-Elemen Kunci System JIT
Dalam implementasinya, JIT memiliki beberapa elemen yang digunakan dalam menerapkan JIT. Namun, terdapat banyak perbedaan pendapat dari para ahli mengenai elemen JIT. (Meylianti, 2009)
Menurut Henry Simamora (2012: 106-110) elemen-elemen yang dapat menentukan keberhasilan Just in time serta dapat mengurangi pemborosan yaitu, sebagai berikut :
Jumlah pemasok yang terbatas.
a.       Jumlah pemasok yang terbatas.

b.      Tingkat persediaan yang minimal.
c.       Pembenahan tata letak pabrik.
d.      Pengurangan masa pengesetan.
e.       Kendali mutu terpadu.
f.       Tenaga kerja yang fleksibel.
Uraian mengenai kutipan tersebut di atas dapat dijabarkan sebagai berikut:
a.       Jumlah pemasok yang terbatas
Dalam sistem tepat waktu, pemasok diperlakukan sebagai mitra dan biasanya terkait kontrak jangka panjang dengan perusahaan. Para pemasok merupakan bagian vital sistem yang mengakibatkan JIT berjalan mulus, memastikan masukan bermutu dan pengiriman yang tepat waktu. Supaya aplikasi JIT berjalan dengan baik, perusahaan harus belajar bergantung pada segelintir pemasok yang bersedia melakukan pengiriman yang sering dalam jumlah yang kecil. Pada situasi tertentu, pemasok malahan menempatkan fasilitas mereka di dekat perusahaan pabrikasi.
b.      Tingkat persediaan yang minimal.
Berlawanan dengan lingkungan pabrikasi tradisional, di mana bahan baku, suku cadang, dan pasokan dibeli jauh-jauh hari sebelumnya dan disimpan di gudang sampai departemen produksi membutuhkannya, dalam lingkungan JIT bahan baku dan suku cadang dibeli serta diterima hanya ketika dibutuhkan saja. Tujuan lingkungan JIT adalah untuk memastikan bahwa setiap stasiun kerja menghasilkan dan mengirimkan unsur-unsur yang tepat ke stasiun kerja berikutnya pada kuantitas yang tepat dan pada waktu yang tepat. Apabila tujuan ini dicapai, perusahaan tidak lagi membutuhkan persediaan penyangga (buffer inventory).
c.       Pembenahan tata letak pabrik.

Perubahan besar yang dimulai oleh JIT adalah manajemen lingkungan pabrik dan restrukturisasi departemen produksi ke dalam sel kerja atau sel pabrikasi. Filosofi JIT mencari cara-cara praktis untuk menghilangkan kebutuhan akan persediaan. Untuk menerapkan JIT secara tepat, perusahaan perlu membenahi arus lini pabrikasi di dalam pabriknya. Arus lini (flow line) adalah jalur fisik yang dilewati oleh sebuah produk tatkala bergerak melalui proses pabrikasi dan penerimaan bahan baku sampai ke pengiriman barang jadi. Sistem JIT menggantikan tata letak pabrik tradisional dengan sebuah pola sel pabrikasi atau sel kerja. Sel pabrikasi berisi mesin-mesin yang dikelompokkan di dalam sebuah keluarga mesin, umumnya berbentuk setengah lingkaran. Setiap sel pabrikasi dibentuk untuk menghasilkan produk atau keluarga produk tertentu. Produk bergerak dari satu mesin ke mesin lainnya mulai dari awal hingga akhir. Para karyawan ditugaskan dalam setiap sel pabrikasi dan dilatih untuk mengoperasikan semua mesin di dalam sel pabrikasi.

d.      Pengurangan masa pengesetan

Masa pengesetan (setup time) adalah waktu yang dibutuhkan untuk mengubah perlengkapan, memindahkan bahan baku, dan mendapatkan formulir-formulir terkait dan bergerak cepat guna mengakomodasikan produksi jenis barang yang berbeda. Minimisasi masa pengesetan mesin akan meningkatkan fleksibilitas karena lebih mudah bagi perusahaan untuk mengganti produksi ke produk yang berbeda. Waktu yang tersita untuk mengeset mesin akan mengurangi waktu yang tersedia untuk menjalankannya, dan konsekuensinya memotong kapasitas produksi.

e.       Kendali mutu terpadu

Aktivitas-aktivitas JIT menghasilkan produk bermutu tinggi karena produk memang diolah dari bahan baku bermutu tinggi dan inspeksi produk dilakukan pada seluruh proses produksi. Agar JIT berjalan dengan lancar, perusahaan perlu membangun sistem kendali mutu terpadu (total quality control, TQC) terhadap komponen-komponen dan bahan bakunya.

f.       Tenaga kerja yang fleksibel

Di dalam lingkungan pabrikasi konvensional, tenaga kerjanya biasanya terspesialisasi. Para karyawan dilatih untuk menunaikan satu jenis tugas. Karena tata letak pabrik dalam lingkungan JIT berbeda dengan lingkungan pabrik konvensional, para karyawan harus menguasai berbagai keterampilan teknis.
Di dalam lingkungan kerja JIT, seorang karyawan mungkin diminta mengoperasikan beberapa jenis mesin secara simultan. Oleh karena itu, dia harus mempelajari keterampilan operasi yang baru. Selain itu karena JIT mewajibkan para karyawan menghasilkan hanya yang dibutuhkan oleh stasiun kerja berikutnya, maka ketika kebutuhan tersebut telah terpenuhi, karyawan di dalam sel pabrikasi diharapkan melakukan reparasi kecil dan tugas perawatan terhadap perlengkapan mesin di sel pabrikasinya. Karyawan-karyawan dalam lingkungan JIT juga bertanggung jawab atas pelaksanaan inspeksi yang dibutuhkan atas keluaran mereka. (Diaz, 2015)













BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
            Pendekatan JIT adalah sebuah sistem produksi dimana pembelian bahan baku dan pembuatan produk hanya dilakukan untuk memenuhi permintaan pelanggan. Jika tidak ada permintaanpelanggan, perusahaan tidak akan membuat produk dan menyimpannya digudang. Dalam sistem JIT ini, persediaan ditekan seminimum mungkin dan jika memungkinkan sama dengan nol. Dalam kondisi idealnya, sebuah perusahaan yang menggunakan sistem JIT hanya membeli bahan baku untuk memenuhi kebutuhan bahan baku pada hari itu juga. Pada akhir proses produksi, perusahaan juga tidak akan memiliki produk dalam proses, dan barang yang telah selesai diproduksi, akan sesegera mungkin dikirimkan kepada konsumen. Jadi perusahaan sama sekali tidak memiliki persediaan bahan baku, produk dalam proses, dan produk jadi. Urut-urutan inilah yang disebut dengan Just In Time, yang berarti bahwa bahan baku diterima Just In Time diteruskan ke proses produksi dan produksi dilakukan Just In Time,  dan ketika produk sudah selesai Just In Time dikirimkan kepada pelanggan.










DAFTAR PUSTAKA

 

Diaz, A. P. (2015). PENERAPAN METODE JIT PEMBELIAN BAHAN BAKU DALAM. Jurnal Ilmu & Riset Akuntansi.
Garrison, d. (2013). Akuntansi Manajerial . JAkarta: Salemba Empat.
Madianto, A. (2016). ANALISIS IMPLEMENTASI SISTEM JUST IN TIME (JIT). Jurnal Administrasi Bisnis (JAB)|Vol. 38 No. 1.
Meylianti, B. (2009). PENGARUH PENERAPAN JIT (JUST IN TIME). Jurnal Manajemen Teori dan Terapan | Tahun 2, No.2,.
Mowen, H. (2006). Akuntansi Manajerial. JAkarta : Salemba Empat .
Rahayu. (2005). PENGARUH APLIKASI STRATEGI JUST IN TIME. Ekuitas Vol.9 No.4, 445.
Rahayu. (2005). PENGARUH APLIKASI STRATEGI JUST IN TIME. Ekuitas Vol.9 No.4 , 443.
Soewarno. (2005). Just In Time (JIT) sebagai Upaya untuk Meningkatkan Competitive Advantage. Jakarta: Salemba Empat.
Sukendar, H. (2011). PENERAPAN JUST IN TIME DALAM SISTEM PEMBELIAN. BINUS BUSINESS REVIEW Vol. 2 No. 1, 453.
Sukendar, H. (2011). PENERAPAN JUST IN TIME DALAM SISTEM PEMBELIAN. BINUS BUSINESS REVIEW Vol. 2 No. 1, 450.
Sulastri, P. (2012). SISTEM JUST IN TIME ( JIT ) PENTING BAGI. Dharma Ekonomi No. 36 / Th. XIX, 3.
Witjaksono, A. (2013). Akuntansi Biaya. Yogyakarta : Graha Ilmu .


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah manajemen tentang konsep dasar akuntansi manajemen

makalah tentang FBM vs ABM

makalah Balance Scorecard kelompok 3