MAKALAH tentang JIT (Just in time) kelompok 3

TUGAS MAKALAH KELOMPOK 3
AKUNTANSI MANAJEMEN
TENTANG
JIT (JUST IN TIME)
OLEH :
Hamdani
Putra (1630402043)
Muhamad Yusuf (1630402063)
Muhammad Ilham
(1630402066)
Mulia Ramdani (1630402069)
Mulya
Yuhanda (1630402070)
Novi Safitri
(1630402078)
Novri Zaki Rahman (1630402080)
DOSEN :
Mega Rahmi, SE,Sy., M. Si
JURUSAN
EKONOMI SYARI’AH KONSENTRASI AKUNTANSI SYARI’AH
FAKULTAS
EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI
BATUSANGKAR
2018
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Operasi JIT merupakan suatu
pendekatan untuk mengidentifikasi dan mengeliminasi segala macam sumber
pemborosan dalam aktivitas produksi, dengan memberikan komponen produksi yang
tepat serta pada waktu dan tempat yang tepat. Operasi JIT memproduksi komponen
produksi tepat pada waktu memenuhi kebutuhan produksi, sedangkan Operasi
Tradisional memproduksi komponen produksi dalam jumlah besar dengan maksud
untuk mengantisipasi kalau- kalau terjadi sesuatu.
Dalam kondisi yang ideal, perusahaan
yang menjalankan sistem JIT akan membeli bahan baku hanya untuk kebutuhan hari
itu saja. Lebih lanjut, perusahaan tidak memiliki persediaan barang dalam
proses pada akhir hari tersebut, dan semua barang jadi yang diselesaikan hari
itu telah dikirimkan kepada para pelanggan begitu produk selesai. Dengan pola
seperti itu, JIT berarti bahwa bahan baku diterima miring segera masuk ke
proses produksi, bahan-bahan produksi yang lain segera digabungkan dan di
kerjakan, dan produk yang telah jadi segera dikirimkan kepada pelanggan.
Kemajuan teknologi yang sangat
pesat, pada perusahaan manufaktur mengakibatkan berkurangnya pemakaian tenaga
kerja langsung disatu sisi, namun disisi lain memerlukan pengeluaran investasi
yang relative besar untuk menggunakan peralatan modern. Karena keterbatasan
dana masih banyak perusahaan yang menggunakan prosedur yang tradisional untuk
menghadapi kemajuan teknologi itu sendiri. Namun masyarakat di Negara maju
seperti Jepang khususnya komunitas manufaktur mulai mengembangkan suatu system
yang disebut Just In Time, dimana sistem ini dilatar belakangi oleh
pemborosan- pemborosan tenaga kerja, ruangan dan waktu industri, yang terjadi
dikarenakan adanya persediaan (inventory) sehingga biaya produksi menjadi lebih
tinggi.
B. Rumusan
Masalah
Berdasarkan
latar belakang tersebut, maka dapat dirumuskan masalahnya yaitu sebagai
berikut:
1. Apa
itu konsep Just In Time (JIT)?
2. Bagaimana
implikasi konsep Just In Time (JIT)?
3. Apa
saja element-element kunci Just In Time (JIT)?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Konsep
Dasar JIT (Just in Time)
1.
Pengertian
JIT (Just In Time)
Sistem produksi just
in time pada awalnya dikembangkan dan di promosikan oleh Toyota Motor
Corporation di Jepang. Strategi ini kemudian banyak diabdosi oleh banyak
perusahaan Jepang, terutama setelah terjadinya krisis minyak dunia pada tahun
1973. Tujuan utama dari diterapkannya system produksi just in time ini
adalah mengurangi ongkos produksi dan meningkatkan produktivitas total industry
secara keseluruhan dengan cara menghilangkan pemborosan (waste) secara
terus-menerus (john A. White : Production Hand Book, Georgia Institute of
Technology, 1987). Sasaran dari strategi produksi just in time (JIT)
adalah reduksi biaya dan meningkatkan arus perputaran modal (Capital
turnover ratio) dengan jalan menghilangkan setiap pemborosan (waste) dalam
system industry. JIT harus dipandang sebagai suatu yang lebih luas dari pada
sekedar suatu program pengendalian inventori. (Sulastri,
2012)
Sistem just in time merupakan
salah satu konsep lean yang dijalankan dengan menggunakan pull system.
Menurut Haizer dan Render (2010), just in time menjadi sebuah alat bantu
(tools) yang sangat baik bagi perusahaan untuk mengurangi terjadinya waste
dan faktor –faktor perubahan yang tidak diinginkan. Just in time dikembangkan dalam rangka merealisasikan konsep Toyota
yaitu menghilangkan hal-hal yang tidak berguna terutama yang berhubungan dengan
persediaan dan kelebihan produksi. Konsep just in time yaitu memproduksi
bahan yang dibutuhkan dalam jumlah yang diperlukan dan pada saat yang
dibutuhkan. Untuk mencapai sasaran, just in time dilandaskan pada sistem
untuk menentukan metode produksi dan sistem kanban.
Just In Time ( JIT
) adalah filosofi yang merupakan suatu paradigma baru dari strategi bisnis
bergeser dari manajemen persediaan tradisional ke manajemen rantai pasokan
berbasis web yang meningkatkan perputaran persediaan dan mengurangi penumpukan
persediaan. JIT merupakan suatu konsep yang dapat diterapkan pada banyak aspek
dari bisnis selain persediaan.Sistem pemanufakturan tradisional mengatur jadwal
produksinya berdasarkan pada peramalan kebutuhan
dimasa yang akan datang dengan pasti walaupun ia memiliki pemahaman yang sempurna tentang masa lalu dan memiliki insting yang tajam terhadap kecenderungan yang terjadi di pasar. (Madianto, 2016)
dimasa yang akan datang dengan pasti walaupun ia memiliki pemahaman yang sempurna tentang masa lalu dan memiliki insting yang tajam terhadap kecenderungan yang terjadi di pasar. (Madianto, 2016)
JIT tergantung pada logistik termasuk
transportasi, pergudangan dan beberapa strategi untuk menangani ketidak pastian
pasokan rantai potensial. (Soewarno, 2005)
Persediaan merupakan
suatu aktiva yang meliputi barang-barang milik perusahaan dengan maksud untuk
dijual dalam suatu periode usaha yang normal atau persediaan barang-barang yang
masih dalam proses ataupun persediaan bahan baku. Persediaan merupakan salah
satu aset paling mahal dan harus ada keseimbangan antara investasi persediaan
dan tingkat pelayanan konsumen. Dari itulah timbul yang namanya konsep just
in time adalah suatu konsep di mana bahan baku yang digunakan untuk
aktifitas produksi didatangkan dari pemasok atau suplier tepat pada waktu bahan
itu dibutuhkan oleh proses produksi, sehingga akan sangat menghemat bahkan
meniadakan biaya persediaan barang/penyimpanan barang/ stocking cost.
Tujuan utama just in time adalah untuk meningkatkan laba dan posisi
persaingan perusahaan yang dicapai melalui usaha pengendalian biaya,
peningkatan kualitas, serta perbaikan kinerja pengiriman. (Mowen, 2006)
JIT sasaran utamanya
adalah meningkatkan produktivitas sistem produksi atau operasi dengan cara
menghilangkan semua kegiatan yang tidak menambah nilai bagi suatu produk,
karena JIT merupakan suatu filosofi manajemen operasi yang berusaha untuk
menghilangkan pemborosan pada semua aspek dari kegiatan-kegiatan produksi
perusahaan.
Just in time merupakan salah satu konsep yang mendukung manajemen
biaya untuk mengantisipasi perubahan yang terjadi di lingkungan industri
sebagai akibat kemajuan teknologi dan otomatisasi. Dalam konsep JIT dilakukan
eliminasi biaya melalui eliminasi jumlah persediaan (persediaan = 0). Eliminasi
jumlah persediaan ini secara otomatis menghilangkan biaya penyimpanan dan
transportasi serta sekaligus mengakibatkan penurunan tingkat toleransi terhadap
kesalahan produk.
2.
Penerapan Just-In-Time
Dalam
menerapkan Just-In-Time, perusahaan harus melakukan
beberapa hal untuk menunjang proses penerapan Just-In-Time. Tujuannya adalah agar proses penerapan Just-In-time dapat berjalan dengan lancar dan cepat. Hal pertama yang harus
dilakukan adalah mengedukasi dan melatih seluruh pihak yang ada dalam perusahaan.
Hal
ini perlu dilakukan agar pihak-pihak tersebut mengerti konsep dasar mengenai Just-In-Time dan agar mereka mengerti maksud dan tujuan
perusahaan untuk menerapkan Just-In-Time. (Garrison, 2013)
Dengan
kemampuan dan pemahaman yang baik mengenai Just-In-time, maka seluruh pihak yang ada
dapat membantu memperlancar proses penerapan Just-In Time dalam perusahaan.
Hal
lain yang harus dilakukan adalah menjadikan kualitas sebagai prioritas.
Kualitas harus dijadikan prioritas karena sesuai dengan
prinsip Just-In-Time yang mementingkan efisiensi namun
tetap memperhatikan kualitas. Hal ini
dikarenakan walaupun semua kegiatan yang ada dilakukan tepat waktu, tanpa kualitas yang baik semua yang
dilakukan oleh perusahaan tentu menjadi sia-sia.
Prioritas terhadap kualitas juga
ditekankan karena sedikitnya persediaan yang dimiliki. Dengan sedikitnya
persediaan, maka tingkat kesalahan juga harus
diminimalkan. Jika timbul kesalahan, belum tentu persediaan yang ada dapat digunakan untuk
menutup kesalahan tersebut. Hal berikut yang harus dilakukan adalah menjadikan para pekerja
memiliki kemampuan yang beragam dan handal. Oleh karena itu, para pekerja yang ada dapat
melakukan beberapa pekerjaan, tidah hanya terbatas pada bidang tertentu. Hal ini akan mendatangkan
efisiensi bagi perusahaan karena beberapa pekerjaan dapat ditangani oleh satu orang, sehingga perusahaan
tidak perlu mempekerjakan banyak pekerja.
Persediaan
juga perlu diperhatikan, sesuai prinsip Just-In-time, maka persediaan yang dimiliki oleh perusahaan harus
seminimum mungkin, bahkan jika mungkin tidak memiliki persediaan. Hal ini
bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dengan
menekan biaya untuk menjalankan gudang-gudang yang ada. Selain itu, dengan sedikitnya
persediaan, maka resiko kerusakan barang, baik bahan baku dan barang jadi dapat dikurangi. Jumlah pemasok
yang dimiliki perusahaan juga harus dikurangi. Hal ini bertujuan untuk memilih pemasok-pemasok
yang dapat membantu perusahaan dalam menerapkan metode Just-In-Time. Pemasok-pemasok yang akan dimiliki oleh
perusahaan nantinya akan berjumlah sedikit. Para pemasok tersebut juga harus
diikat dengan kontrak jangka panjang agar nantinya kegiatan operasi perusahaan tidak terhambat dan dapat
tepat waktu. (Sukendar, 2011)
3.
Proses dan Manfaat Just In Time
Sistem
just in time seringpula diidentikkan dengan usaha
untuk menghilangkan
pemborosan produksi (waste products) yang disebabkan oleh produk cacat maupun
produk rusak. Disamping itu sistem JIT diidentikkan pula dengan sistem
persediaan tepat waktu dan sistem produksi tepat waktu.
pemborosan produksi (waste products) yang disebabkan oleh produk cacat maupun
produk rusak. Disamping itu sistem JIT diidentikkan pula dengan sistem
persediaan tepat waktu dan sistem produksi tepat waktu.
Kondisi
yang disyaratkan untuk menerapkan sistem JIT dalam sistem sediaan tepat waktu diantaranya adalah:
a.
Waktu dan biaya pemesanan maupun biaya set-up kecil.
b.
Jumlah pemesanan mendekati satu.
c.
Tenggang waktu (lead time) minimum.
d.
Beban kerja antar departemen atau mesin seimbang.
e. Tidak
ada waktu tunda akibat kualitas produk yang rendah, ketiadaan suplay bahan,
kerusakan mesin, perubahan desain dan sebagainya.
kerusakan mesin, perubahan desain dan sebagainya.
Persyaratan
tersebut di atas sangat tidak mungkin untuk dicapai, namun demikian sistem JIT berusaha memberikan
stimulasi atau rangsangan agar kondisi yang ada dapatmendekati kondisi ideal.
Strategi
produksi just
in time (JIT)
diterapkan pada seluruh sistem industri modern sejak proses rekayasa (engineering), pemesanan material dari pemasok (supplier), manajemenmaterial dalam industri, proses
fabrikasi industri, sampai distribusi produk industrikepada pelanggan. Tampak
bahwa sistem industri modern berorientasi pada kepuasanpelanggan dengan jalan
mengintegrasikan ketiga komponen utama, yaitu: pemasokmaterial (input), proses fabrikasi (factory process), dan pelanggan (customers) sebagai satu sistem yang utuh. (Rahayu, 2005)
4.
Tujuan Penerapan Sistem JIT
Tujuan
utama just in time adalah menghilangkan pemborosan melalui perbaikan
terus menerus (continous improvement). Dibawah filosofi just in time,
segala sesuatu baik material, mesin dan peralatan, sumber daya manusia, modal,
informasi, manajerial,
proses, dan lain-lain yang tidak memberikan nilai tambah pada produk disebut
pemborosan (waste). Nilai tambah produk, merupakan kata kunci dalam JIT.
proses, dan lain-lain yang tidak memberikan nilai tambah pada produk disebut
pemborosan (waste). Nilai tambah produk, merupakan kata kunci dalam JIT.
Nilai
tambah produk diperoleh hanya melalui aktivitas aktual yang dilakukan langsung
pada produk, dan tidak melalui: pemindahan, penyimpanan, penghitungan, dan
penyortiran produk. Pemindahan, penyimpanan, penghitungan, dan penyortiran
produk tidak menambah nilai pada produk itu, tetapi merupakan biaya, dan biaya
yang dikeluarkan tanpa memberikan nilai tambah pada produk merupakan pemborosan
(waste).
Pada
dasarnya sistem produksi just in time mempunyai enam tujuan dasar
sebagai berikut:
a.
Mengintegrasikan dan mengoptimumkan setiap langkah dalam proses
manufakturing.
b.
Menghasilkan produk berkualitas sesuai keinginan pelanggan.
c.
Menurunkan ongkos manufakturing secara terus menerus.
d.
Menghasilkan produk hanya berdasarkan permintaan pelanggan.
e.
Mengembangkan fleksibilitas manufacturing.
f.
Mempertahankan komitmen tinggi untuk bekerja sama dengan pemasok
dan
pelanggan.
pelanggan.
5.
Karakteristik Dasar Just In Time (JIT)
Hansen
& Mowen (2005:479) menyatakan ada beberapa karakteristik dasar Just In
Time (JIT):
a.
Tata letak pabrik
Just In
Time (JIT) mengganti tata letak pabrik tradisional ini
dengan suatu pola sel manufaktur. Sel manufaktur terdiri dari mesin-mesin yang
dikelompokkan dalam kumpulan, biasanya dalam bentuk setengah lingkaran.
Mesin-mesin diatur sehingga mereka dapat digunakan untuk melakukan berbagai operasi
secara berurutan. Tiap sel dipersiapkan untuk menghasilkan produk atau kumpulan
produk tertentu. Produk dipindah dari satu mesin ke yang lainnya dari awal
hingga selesai. Para pekerja ditugaskan pada sel-sel dan dilatih untuk
mengoperasikan semua mesin dalam sel.
b.
Pengelompokkan dan pemberdayaan karyawan
Pelatihan pekerja sel untuk melakukan
tugas-tugas ganda juga memiliki pengaruh pada relokasi dukungan pelayanan pada
sel.
Sebagai tambahan dari pekerjaan produksi
langsung, para pekerja sel dapat melakukan tugas persiapan, memindahkan barang
setengah jadi dari bagian ke bagian lain dalam sel, melakukan perawatan
pencegahan dan perbaikan kecil, melakukan inspeksi kualitas, dan melakukan
tugas pembersihan. Kemampuan multitugas ini secara langsung berhubungan pada
pendekatan tarikan melalui produksi.
c.
Total quality control
Just In Time (JIT) perlu
memberikan tekanan yang lebih kuat pada pengelolaan kualitas. Total quality
control pada intinya adalah suatu pengerjaan tanpa henti untuk suatu
kualitas sempurna, usaha untuk mendapatkan suatu desain produk dan proses
manufaktur tanpa cacat.
d.
Ketelusuran biaya overhead
Suatu sistem pembiayaan menggunakan tiga metode
untuk membebankan biaya pada produk individual: penelusuran langsung,
penelusuran penggerak, dan alokasi. Dari ketiga metode, penelusuran langsung
adalah yang paling akurat dan, sehingga, lebih disukai daripada dua metode
lainnya.
e.
Pengaruh persediaan
Just In Time (JIT) umumnya
menurunkan persediaan hingga tingkat yang sangat rendah. Pencapaian terhadap
tingkat yang tidak signifikan dari persediaan adalah vital bagi kesuksesan Just
In Time. Just In Time (JIT) menolak untuk menggunakan persediaan
sebagai solusi dari masalah-masalah ini. Bahkan, persediaan tidak hanya
dipandang sebagai pemborosan namun sebagai sesuatu yang langsung berhubungan
dengan kemampuan perusahaan untuk bersaing.
B.
Implikasi
Konsep JIT (Just In Time)
Mengimplementasi
Just-In-Time bukan merupakan pekerjaan yang mudah, sebagai contoh, Toyota
membutuhkan waktu dua puluh tahun untuk mengimplemetasi Just-In-time.
Petroff (1993) mengatakan hal-hal yang harus dilakukan untuk
mengimplementasikan Just-In-time adalah: mengedukasi dan melatih manajer
dan eksekutif; menjadikan kualitas sebagai prioritas; memperbolehkan pekerja
dan mesin tidak bekerja saat tidak ada pekerjaan; menjadikan pekerja menjadi
pekerja yang handal; mengadopsi pengukuran kinerja Just-In-time;
mengatur persediaan dan safety stock dengan Just-In-Time. Selain
itu, dalam buku tersebut juga disebutkan bahwa pemasok dan pekerja harus
diperlukan sebagai bagian dari perusahaan yang penting, bukan sebagai musuh.
Impilikasi JIT
1.
JIT
sederhana dalam teori, namun sangat sulit diwujudkan terutama dalam manufaktur.
2.
Salah
satu alasan utama banyak perusahaan enggan menerapkan JIT adalah dengan
ketiadaan barang dalam proses, disertai kekhawatiran seluruh proses produksi
akan terhenti bilamana suatu masalah muncul pada salah satu rantai proses
produksi.
3.
Perusahaan
yang tidak menerapkan JIT hendaknya terlebiih dahulu menghilangkan seluruh hal yang
berpotensi menjadi penyebab kegagalan sistem antara lalin dangan cara:
a)
Mendesain
kembali proses produksi sehingga tidak menimbulkan biaya tinggi bila hendak
memprodusi suatu atau sejumlah kecil item produk pada saat tertentu.
b)
Alternatif
yang biasa dilakukan untuk mengurangi biaya adalah dengan memperpendek jarak
proses, memperkerjakan pegawai yang memililki kempuan beradaptasi dengan tuntunan tugas baru dan menggunakan peralatan
yang seba guna.
4.
Inti
utama dari sistem JIT adalah para pegawai yang sangat terlatih dan senantiasa
mampu memenuhi tuntunan untuk mencapai standar kualitas produk/jasa tertinggi
5.
Bilamana
seorang pekerja mempuyai masalah pada komponen produk yang diterimanya, maka
pekerja yang bersangkutan berkewajiban untuk segera melaporkan hal tersebut
pada atasanya agar dapat diambil tindakan yang diperlukan.
6.
Para
pemasok dituntut aagar mampu memproduksi segaligus mengirimkan produk yang
bebes cacat (free defect) kapan jasa diperlukan.
7.
Impikasi
JIT pada sistem akuntannsi manajemen:
a)
Bagian
akuntansi manajemen wajib mendukung peralihan sistem konvensional menuju sistem
JIT dengan cara melakukan pemantauan, identifikasi dan komunikasi pada para
pengambil keputusan mengenai asal-muasal/sumber penundaan (delay), kesalahan
(error) dan pemborosan (waste)
b)
Kegiatan
klerikal akuntansi manajemen menjadi lebih sederhana, karena berkurangnya
mutasi persediaan yang dipantau.
8.
Untuk
mengukur tingkat reabilitas sistem JIT memanfaatkan ukuran berikut ini sebagai
patok duga (bench mark) efektifitas siklus manufaktur, antara lain:
a)
Defech
rate
b)
Cycle
time
c)
Propentasi
ketetapan waktu pengiriman produk pada pelanggan
d)
Akuntansi
pemerintah produk pada pelanggan
e)
Perbandinggan
antara produksi aktual dengan rencana produksi
f)
Perbandingan
antara jam mesin aktual dengan jam mesin yang tersedia
9.
Rasio
produktifitas manajemen termasuk JIT memerlukan perubahan kultur organisasi
secara keseluruhan,sestem dengan filosofi JIT.
10.
Inovasi
manajemen, termasuk JIT memerlukan perubahan kultur organisasi secara
keseluruhan, contohnya:
a)
JIT
dapat menguabah irma kerja dan disiplin kerja organisai secara keseluruhan
b)
Perombakan tata letak pabrik (plan lay out) untuk
membentuk shop, sangat mungkin memerlukan renovasi besar-besaran yang harus
diperhitungkan sebagai investsi.
11.
Karena
ide dasar JIT adalah minimalisasi pemborosan sekaligus keseragaman alur kerja,
menyebabkan banyak pekerja yang tidak siap dengan perubahan tersebut. Karenanya
sosialisasi penerapan JIT harus dilakukan jauh sebelum hari-H
12.
JIT
sangat menekankan kerja sama tim, maka kerap dijumpai pekerja yang mengalami
stress, terutama mereka yang berasal dari lingkungan kerja yang selama ini
terisolasi atau mereka yanag memiliki kepribadian yang tidak team orinted. (Witjaksono, 2013)
Pengembangan
strategi untuk implementasi sistem produksi just in time dimaksudkan
untuk menjamin bahwa transisi ke dalam sistem just in time akan berjalan mulus dan
konsisten. Pengembangan strategi merupakan suatu proses evaluasi terhadap perubahanperubahan yang harus dibuat dan penetapan prioritas untuk implementasi just in time.
Strategi implementasi just in time mengharuskan adanya perubahan tanggung-jawab dari
masing-masing departemen atau fungsi dalam industri dengan berfokus pada perbaikan
terus menerus pada aspek kualitas, biaya dan jadwal. Apabila setiap fungsi dalam proses
manufacturing di atas konsisten melaksanakan just in time dengan menunjukkan
komitmen tinggi dalam melaksanakan tanggung jawabnya, diharapkan bahwa
implementasi just in time akan memberikan hasil-hasil yang memuaskan. Sistem just in
time merupakan suatu pendekatan komprehensif yang melibatkan manajemen puncak dan
semua karyawan dalam organisasi, untuk mencapai keunggulan kompetitif di pasar
global. (Rahayu, 2005)
untuk menjamin bahwa transisi ke dalam sistem just in time akan berjalan mulus dan
konsisten. Pengembangan strategi merupakan suatu proses evaluasi terhadap perubahanperubahan yang harus dibuat dan penetapan prioritas untuk implementasi just in time.
Strategi implementasi just in time mengharuskan adanya perubahan tanggung-jawab dari
masing-masing departemen atau fungsi dalam industri dengan berfokus pada perbaikan
terus menerus pada aspek kualitas, biaya dan jadwal. Apabila setiap fungsi dalam proses
manufacturing di atas konsisten melaksanakan just in time dengan menunjukkan
komitmen tinggi dalam melaksanakan tanggung jawabnya, diharapkan bahwa
implementasi just in time akan memberikan hasil-hasil yang memuaskan. Sistem just in
time merupakan suatu pendekatan komprehensif yang melibatkan manajemen puncak dan
semua karyawan dalam organisasi, untuk mencapai keunggulan kompetitif di pasar
global. (Rahayu, 2005)
Berdasarkan
uraian yang dikemukakan di atas, dapat dikembangkan langkah-langkah
strategi implementasi JIT dalam sistem produksi, sebagai berikut:
strategi implementasi JIT dalam sistem produksi, sebagai berikut:
a.
Memperoleh komitmen dari manajemen puncak. Tanpa komitmen dari
manajemen puncak, implementasi dari JIT menjadi tidak efektif dan efisien.
b.
Membentuk komite pengarah (steering committee) atau
koordinator implementasi just
in time. Komite ini akan memantau proses implementasi just in time agar sesuai
dengan perencanaan untuk mencapai sasaran perbaikan terus-menerus yang
diinginkan.
in time. Komite ini akan memantau proses implementasi just in time agar sesuai
dengan perencanaan untuk mencapai sasaran perbaikan terus-menerus yang
diinginkan.
c.
Membangun tim kerja sama dan partisipasi total dari semua
tingkatan manajemen dan
karyawan untuk bekerja sama mencapai sasaran jangka panjang seperti tingkat
kecacatan nol (zero defect), tingkat inventori minimum (zero inventory), kepuasan
pelanggan 100%, dan lain-lain.
karyawan untuk bekerja sama mencapai sasaran jangka panjang seperti tingkat
kecacatan nol (zero defect), tingkat inventori minimum (zero inventory), kepuasan
pelanggan 100%, dan lain-lain.
d.
Mendefinisikan rantai proses bernilai tambah, kemudian
mendefinisikan proses kerja
dengan menggunakan diagram alir proses. Berdasarkan hal ini kemudian diusahakan untuk menurunkan cycle time dari proses, menyeimbangkan lini proses dengan tenaga
kerja dan fasilitas yang ada.
dengan menggunakan diagram alir proses. Berdasarkan hal ini kemudian diusahakan untuk menurunkan cycle time dari proses, menyeimbangkan lini proses dengan tenaga
kerja dan fasilitas yang ada.
e.
Mengembangkan sistem belajar terus menerus melalui pendidikan dan
pelatihan yang
berfokus pada perbaikan terus menerus terhadap proses, kualitas, produktivitas, dan
profitabilitas.
berfokus pada perbaikan terus menerus terhadap proses, kualitas, produktivitas, dan
profitabilitas.
f.
Mengidentifikasi hasil dari setiap proses, menggunakan diagram
pareto untuk
mengidentifikasi masalah-masalah utama dalam proses, dan mengembangkan
tindakan perbaikan terus menerus untuk menghilangkan akar penyebab dari masalahmasalah dalam proses.
mengidentifikasi masalah-masalah utama dalam proses, dan mengembangkan
tindakan perbaikan terus menerus untuk menghilangkan akar penyebab dari masalahmasalah dalam proses.
g.
Menerapkan sistem penjadwalan linear (linear scheduling) untuk
mencapai kuantitas
yang sama dan seimbang dari setiap proses kerja, operasi dan pergantian kerja (shift).
yang sama dan seimbang dari setiap proses kerja, operasi dan pergantian kerja (shift).
h.
Mengembangkan sistem jaminan kualitas dan produktivitas yang
berfokus pada
eliminasi masalah-masalah kualitas dan produktivitas. Berdasarkan hal ini, diharapkan
performansi perusahaan akan meningkat terus menerus.
eliminasi masalah-masalah kualitas dan produktivitas. Berdasarkan hal ini, diharapkan
performansi perusahaan akan meningkat terus menerus.
i.
Mengembangkan sistem audit untuk melaksanakan proses auditing secara
teratur
terhadap sistem just in time. Hal ini dimaksudkan untuk menjamin efektivitas dan
efisiensi penerapan sistem just in time dalam perusahaan industri.
terhadap sistem just in time. Hal ini dimaksudkan untuk menjamin efektivitas dan
efisiensi penerapan sistem just in time dalam perusahaan industri.
Strategi
Penerapan pembelian Just in Time. Dukungan, yaitu dari semua pihak terutama yang berkaitan dengan kegiatan
pembelian, dan khususnya dukungan dari pimpinan. Tanpa ada komitmen dari pimpinan tersebut JIT tidak dapat
terlaksana. Mengubah sistem, yaitu mengubah cara mengadakan pembelian, yaitu dengan membuat
kontrak jangka panjang dengan pemasok sehingga perusahaan cukup hanya memesan sekali untuk
jangka panjang, selanjutnya barang akan datang sesuai kebutuhan atau proses produksi perubahan
diperusahaan.
Strategi
penerapan Just
in Time dalam
sistem produksi. Penemuan sistem produksi yang tepat, yaitu dengan sistem
tarik yang bertujuan memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggan dengan
menghilangkan sebanyak mungkin pemborosan.
Penemuan lini produksi yaitu dalam satu lini produksi harus dibuat bermacam-macam barang,
sehingga semua kebutuhan pelanggan yang berbeda-beda itu dapat terpenuhi. Selain itu
lini produksi tersebut dapat menghemat biaya, biaya bahan, persediaan, dan sebagainya. JIT bukan
hanya sekedar metode pengedalian persediaan, tetapi juga merupakan sistem produksi yang saling
berkaitan dengan semua fungsi dan aktivitas.
C.
Elemen-Elemen
Kunci System JIT
Dalam
implementasinya, JIT memiliki beberapa elemen yang digunakan dalam menerapkan
JIT. Namun, terdapat banyak perbedaan pendapat dari para ahli mengenai elemen
JIT. (Meylianti, 2009)
Menurut Henry
Simamora (2012: 106-110) elemen-elemen yang dapat menentukan keberhasilan Just
in time serta dapat mengurangi pemborosan yaitu, sebagai berikut :
Jumlah
pemasok yang terbatas.
a.
Jumlah pemasok yang terbatas.
b. Tingkat
persediaan yang minimal.
c. Pembenahan
tata letak pabrik.
d. Pengurangan
masa pengesetan.
e. Kendali
mutu terpadu.
f. Tenaga kerja
yang fleksibel.
Uraian
mengenai kutipan tersebut di atas dapat dijabarkan sebagai berikut:
a. Jumlah
pemasok yang terbatas
Dalam
sistem tepat waktu, pemasok diperlakukan sebagai mitra dan biasanya terkait
kontrak jangka panjang dengan perusahaan. Para pemasok merupakan bagian vital
sistem yang mengakibatkan JIT berjalan mulus, memastikan masukan bermutu dan
pengiriman yang tepat waktu. Supaya aplikasi JIT berjalan dengan baik,
perusahaan harus belajar bergantung pada segelintir pemasok yang bersedia melakukan
pengiriman yang sering dalam jumlah yang kecil. Pada situasi tertentu, pemasok
malahan menempatkan fasilitas mereka di dekat perusahaan pabrikasi.
b. Tingkat
persediaan yang minimal.
Berlawanan
dengan lingkungan pabrikasi tradisional, di mana bahan baku, suku cadang, dan
pasokan dibeli jauh-jauh hari sebelumnya dan disimpan di gudang sampai
departemen produksi membutuhkannya, dalam lingkungan JIT bahan baku dan suku
cadang dibeli serta diterima hanya ketika dibutuhkan saja. Tujuan lingkungan
JIT adalah untuk memastikan bahwa setiap stasiun kerja menghasilkan dan
mengirimkan unsur-unsur yang tepat ke stasiun kerja berikutnya pada kuantitas
yang tepat dan pada waktu yang tepat. Apabila tujuan ini dicapai, perusahaan
tidak lagi membutuhkan persediaan penyangga (buffer inventory).
c.
Pembenahan tata letak pabrik.
Perubahan besar yang dimulai oleh JIT adalah
manajemen lingkungan pabrik dan restrukturisasi departemen produksi ke dalam
sel kerja atau sel pabrikasi. Filosofi JIT mencari cara-cara praktis untuk menghilangkan
kebutuhan akan persediaan. Untuk menerapkan JIT secara tepat, perusahaan perlu
membenahi arus lini pabrikasi di dalam pabriknya. Arus lini (flow line)
adalah jalur fisik yang dilewati oleh sebuah produk tatkala bergerak melalui
proses pabrikasi dan penerimaan bahan baku sampai ke pengiriman barang jadi.
Sistem JIT menggantikan tata letak pabrik tradisional dengan sebuah pola sel
pabrikasi atau sel kerja. Sel pabrikasi berisi mesin-mesin yang dikelompokkan
di dalam sebuah keluarga mesin, umumnya berbentuk setengah lingkaran. Setiap
sel pabrikasi dibentuk untuk menghasilkan produk atau keluarga produk tertentu.
Produk bergerak dari satu mesin ke mesin lainnya mulai dari awal hingga akhir.
Para karyawan ditugaskan dalam setiap sel pabrikasi dan dilatih untuk
mengoperasikan semua mesin di dalam sel pabrikasi.
d.
Pengurangan masa pengesetan
Masa pengesetan (setup time) adalah
waktu yang dibutuhkan untuk mengubah perlengkapan, memindahkan bahan baku, dan
mendapatkan formulir-formulir terkait dan bergerak cepat guna mengakomodasikan
produksi jenis barang yang berbeda. Minimisasi masa pengesetan mesin akan
meningkatkan fleksibilitas karena lebih mudah bagi perusahaan untuk mengganti
produksi ke produk yang berbeda. Waktu yang tersita untuk mengeset mesin akan
mengurangi waktu yang tersedia untuk menjalankannya, dan konsekuensinya
memotong kapasitas produksi.
e.
Kendali mutu terpadu
Aktivitas-aktivitas JIT menghasilkan produk
bermutu tinggi karena produk memang diolah dari bahan baku bermutu tinggi dan
inspeksi produk dilakukan pada seluruh proses produksi. Agar JIT berjalan
dengan lancar, perusahaan perlu membangun sistem kendali mutu terpadu (total
quality control, TQC) terhadap komponen-komponen dan bahan bakunya.
f.
Tenaga kerja yang fleksibel
Di dalam lingkungan pabrikasi konvensional,
tenaga kerjanya biasanya terspesialisasi. Para karyawan dilatih untuk
menunaikan satu jenis tugas. Karena tata letak pabrik dalam lingkungan JIT
berbeda dengan lingkungan pabrik konvensional, para karyawan harus menguasai berbagai
keterampilan teknis.
Di dalam lingkungan kerja JIT, seorang karyawan
mungkin diminta mengoperasikan beberapa jenis mesin secara simultan. Oleh
karena itu, dia harus mempelajari keterampilan operasi yang baru. Selain itu
karena JIT mewajibkan para karyawan menghasilkan hanya yang dibutuhkan oleh
stasiun kerja berikutnya, maka ketika kebutuhan tersebut telah terpenuhi,
karyawan di dalam sel pabrikasi diharapkan melakukan reparasi kecil dan tugas
perawatan terhadap perlengkapan mesin di sel pabrikasinya. Karyawan-karyawan
dalam lingkungan JIT juga bertanggung jawab atas pelaksanaan inspeksi yang
dibutuhkan atas keluaran mereka. (Diaz, 2015)
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Pendekatan JIT
adalah sebuah sistem produksi dimana pembelian bahan baku dan pembuatan produk
hanya dilakukan untuk memenuhi permintaan pelanggan. Jika tidak ada
permintaanpelanggan, perusahaan tidak akan membuat produk dan menyimpannya
digudang. Dalam sistem JIT ini, persediaan ditekan seminimum mungkin dan jika
memungkinkan sama dengan nol. Dalam kondisi idealnya, sebuah perusahaan yang
menggunakan sistem JIT hanya membeli bahan baku untuk memenuhi kebutuhan bahan
baku pada hari itu juga. Pada akhir proses produksi, perusahaan juga tidak akan
memiliki produk dalam proses, dan barang yang telah selesai diproduksi, akan
sesegera mungkin dikirimkan kepada konsumen. Jadi perusahaan sama sekali tidak
memiliki persediaan bahan baku, produk dalam proses, dan produk jadi.
Urut-urutan inilah yang disebut dengan Just In Time, yang berarti bahwa
bahan baku diterima Just In Time diteruskan ke proses produksi dan
produksi dilakukan Just In Time, dan ketika produk sudah selesai Just In
Time dikirimkan kepada pelanggan.
DAFTAR PUSTAKA
Diaz, A. P.
(2015). PENERAPAN METODE JIT PEMBELIAN BAHAN BAKU DALAM. Jurnal Ilmu &
Riset Akuntansi.
Garrison, d.
(2013). Akuntansi Manajerial . JAkarta: Salemba Empat.
Madianto, A.
(2016). ANALISIS IMPLEMENTASI SISTEM JUST IN TIME (JIT). Jurnal
Administrasi Bisnis (JAB)|Vol. 38 No. 1.
Meylianti, B.
(2009). PENGARUH PENERAPAN JIT (JUST IN TIME). Jurnal Manajemen Teori dan
Terapan | Tahun 2, No.2,.
Mowen, H. (2006).
Akuntansi Manajerial. JAkarta : Salemba Empat .
Rahayu. (2005).
PENGARUH APLIKASI STRATEGI JUST IN TIME. Ekuitas Vol.9 No.4, 445.
Rahayu. (2005).
PENGARUH APLIKASI STRATEGI JUST IN TIME. Ekuitas Vol.9 No.4 , 443.
Soewarno. (2005).
Just In Time (JIT) sebagai Upaya untuk Meningkatkan Competitive Advantage.
Jakarta: Salemba Empat.
Sukendar, H.
(2011). PENERAPAN JUST IN TIME DALAM SISTEM PEMBELIAN. BINUS BUSINESS
REVIEW Vol. 2 No. 1, 453.
Sukendar, H.
(2011). PENERAPAN JUST IN TIME DALAM SISTEM PEMBELIAN. BINUS BUSINESS
REVIEW Vol. 2 No. 1, 450.
Sulastri, P.
(2012). SISTEM JUST IN TIME ( JIT ) PENTING BAGI. Dharma Ekonomi No. 36 /
Th. XIX, 3.
Witjaksono, A.
(2013). Akuntansi Biaya. Yogyakarta : Graha Ilmu .
Komentar
Posting Komentar