Makalah manajemen tentang konsep dasar akuntansi manajemen
TUGAS MAKALAH KELOMPOK 3
AKUNTANSI MANAJEMEN
TENTANG
KONSEP DASAR AKUNTANSI MANAJEMEN
OLEH :
Hamdani Putra (1630402043)
Muhamad Yusuf (1630402063)
Muhammad Ilham (1630402066)
Mulia Ramdani (1630402069)
Mulya Yuhanda (1630402070)
Novri Zaki Rahman (1630402080)
DOSEN :
Mega Rahmi, SE,Sy., M. Si
JURUSAN
EKONOMI SYARI’AH KONSENTRASI AKUNTANSI SYARI’AH
FAKULTAS
EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI
BATUSANGKAR
2018
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Swt yang
telah melimpahkan rahmatnya kepada penulis, sehingga dapat menyelesaikan
makalah ini. Penulisan makalah ini bertujuan untuk menambah ilmu pengetahuan
mengenai materi akuntansi manajemen sekaligus untuk melengkapi tugas.
Dalam makalah ini penulis membahas mengenai “Konsep
Dasar Akuntansi Manajemen” dengan sub materinya pembebanan biaya dengan
penelusuran langsung, pembebanan biaya dengan penelusuran penggerak, pembebanan
biaya dengan metode alokasi, harga pokok produk dan jasa, dan system akuntansi
manajemen (FBM vs ABM).
Penulis menyadari, masih banyak sekali kekurangan yang
dibuat dalam penulisan makalah ini, oleh karena itu dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan
kepada pembaca untuk memberikan masukan untuk perbaikan penulisan makalah ini
di masa yang akan datang.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua
pihak yang telah banyak membantu dalam penulisan makalah akuntansi manajemen
ini, semoga apa yang telah diberikan kepada penulis baik materil maupun moril
mendapatkan pahala dari Allah Swt, Amin.
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Mempelajari
akuntansi manajemen membutuhkan pemahaman arti biaya dan terminologi yang
berkaitan dengan biaya. Pembebanan biaya pada produk, jasa, pelanggan, dan
objek lain yang menjadi perhatian manajemen adalah salah satu tujuan dasar dari
system informasi akuntansi manajemen. Peningkatan keakuratan pembebanan biaya
menghasilkan informasi yang leih berkualitas tinggi dan digunakan untuk membuat
keputusan lebih baik. Maka dari itu, dalam makalah ini kami akan membahas
mengenai konsep dasar akuntansi manajemen.
B. Rumusan Masalah
1. Jelaskan pembebanan biaya dengan penelusuran langsung ?
2. Jelaskan pembebanan biaya dengan penelusuran penggerak?
3. Jelaskan pembebanan biaya dengan metode alokasi?
4. Jelaskan harga pokok produk dan jasa?
5. Apa itu system akuntansi manajemen FBM dan ABM ?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Biaya
Biaya adalah
kas atau nilai setara kas yang dikorbankan untuk mendapatkan barang atau jasa
yang diharapkan memberi manfaat saat ini atau di masa depan bagi organisasi. (Moniaga, 2014)
Biaya dikatakan sebagai setara kas karena
sumber nonkas dapat ditukar dengan barang atau jasa yang diinginkan. Sebagai
contoh, menukar peralatan dengan bahan yang digunakan untuk produksi. Biaya
bias dianggap sebagai ukuran dollar dari sumber daya yang digunakan untuk
mencapai keuntungan tertentu. Mengurangi biaya yang dibutuhkan untuk mencapai
manfaat tertentu berarti membuat perusahaan menjadi lebih efisien. Akan tetapi,
biaya harus dikelola secara strategis. Sebagai contoh manajer harus memiliki
tujuan menyediakan nilai bagi pelanggan yang sama besar (atau lebih besar)
dengan biaya yang lebih rendah dari biaya pesaingnya. Dengan cara ini, posisi
strategis perusahaan akan naik dan keunggulan kompetitif akan tercipta.
Manajer juga harus memahami apa
yang dimaksud dengan biaya peluang (Opportunity
Cost). Biaya peluang adalah manfaat yang dikorbankan ketika salah satu
alternatif dipilih dari alternatif lainnya. Jika suatu keputusan sudah dibuat
untuk melaksanakan salah satu alternatif, maka manfaat alternatif-alternatif
lainnya akan lepas dari tangan. Manfaat yang lepas karena ditolaknya pilihan
yang lain disebut biaya kesempatan atau opportunity cost dari pilihan yang
telah dibuat itu. Karena biaya kesemoatan itu tidak benar-benar dikeluarkan,
maka tidak dicatat dalam pembukuan. Namun biaya ini merupakan biaya yang
relevan untuk pengambilan keputusan, dan harus dipertimbangkan didalam
mengevaliasikan sesuatu alternatif yang dihadapi. (Ahmad, 1997 )
B.
Objek Biaya
Sistem
akuntansi manajemen dibuat untuk mengukur dan membebankan biaya pada entitas
yang disebut sebagai objek biaya. Objek biaya dapat berupa apa pun, seperti
produk, pelanggan, departemen, proyek, aktivitas, dan lain-lain yang digunakan
untuk mengukur dan membebankan biaya.
Sebagai
contoh, jika Blue Ribbon Baking ingin menentukan biaya penambahan kue kopi
mini, maka objek biayanya adalah lini kue tart kopi mini. Jika sebuah
rumah sakit ingin menetapkan biaya unit operasi, maka objek biayanya adalah
unit operasi. Jika sebuah pabrik mainan ingin menetapkan biaya pengembangan
mainan baru, maka objek biayanya adalah proyek pengembangan mainan baru. Beberapa
tahun terakhir, aktivitas muncul sebagai objek biaya yang penting. Aktivitas
adalah unit dasar dari kerja yang dilakukan dalam sebuah organisasi dan dapat
juga dideskripsikan sebagai sebagai kumpulan tindakan dala suatu organisasi
yang berguna bagi para manajer untuk melakukan perencanaan, pengendalian, dan
pengambilan keputusan. Aktivitas tidak hanya bertindak sebagai objek biaya,
tetapi juga berperan utama dalam pembebanan biaya untuk objek biaya lainnya.
Objek
biaya (Cost Object) adalah berbagai
produk, jasa, pelanggan, aktivitas, atau unit organisasi dimana biaya
dibebankan untuk beberapa tujuan manajemen tertentu (Blocher, 2013, hal. 105)
.
C. Keakuratan Pembebanan
Pembebanan
biaya secara akurat pada objek biaya sangatlah penting. Keakuratan tidak
dievaluasi berdasarkan pengetahuan tentang biaya yang “sebenarnya”. Keakuratan
adalah suatu konsep yang relative dan harus dilakukan secara wajar dan logis
terhadap penggunaan metode pembebanan biaya. Tujuannya adalah engukur dan
membebankan biaya dari sumber daya yang dikonsumsi objek biaya sebaik mungkin.
Intuisi dan anggapan umu diekspresikan sebagai berikut : “Lebih baik menjadi
kurang lebih benar daripada menjadi sangat tidak akurat”.
1. Keterlusuran (traceability)
Hubungan
antara biaya dan objek biaya harus digali untuk membantu meningkatkan
keakuratan pembebanan biaya. Biaya dapat berkaitan dengan objek biaya secara
langsung atau tidak langsung. Biaya tidak langsung (indirect cost) adalah
biaya yang tidak dapat ditelusuri dengan mudah dan akurat sebagai ibjek biaya.
“ditelusuri dengan mudah” berarti biaya dapat dibebankan dengan cara yang layak
secara ekonomi, sedangkan “ditelusurui dengan akurat” berarti biaya dapat
dibebankan dengan menggunakan hubungan sebab-akibat. Jadi, keterlusuran adalah
kemampuan membebankan biaya pada objek biaya dengan cara yang layak secara
ekonomi berdasarkan hubungan sebab-akibat. Semakin besar biaya yang dapat
ditelusuri pada objeknya, semakin akurat pembebanan biayanya. Keterlusuran
adalah unsure utama dalam pengembangan pembebanan biaya yang akurat.
Suatu jenis
biaya tertentu mungkin saja digolongkan, baik sebagai biaya langsung aupun
biaya tidak langsung. System akuntansi manajemen umumnya berurusan dengan
banyak objek biaya. Semua bergantung pada objek biaya yang menjadi acuan.
Sebagai contoh, jika rumah sakit merupakan objek biaya, maka biaya pemanas dan
pendingin ruang rumah sakit adalah biaya langsung. Akan tetapi, jika objek
biayanya adalah produk yang dihasilkan oleh rumah sakit tersebut, maka biaya
utilitas ini merupakan biaya tidak langsung.
2. Metode Penelusuran
Keterlusuran
berarti biaya dapat dibebankan dengan mudah dan akurat, sedangkan Penelusuran (tracing)
berarti pembebanan actual biaya pada objek biaya dengan menggunakan ukuran yang
dapat diamati atas sumber daya yang dikomsumsi oleh objek biaya. Penelusuran
baiaya pada objek biaya dapat terjadi melalui salah satu dari dua cara berikut
ini :
a. Pembebanan Biaya Penelusuran Langsung ( Direct Tracing)
Penelusuran
langsung ( direct tracing) adalah suatu proses pengidentifikasian dan
pembebanan biaya yang berkaitan secara khusus dan fisik dengan suatu objek.
Penelusuran ini paling sering dikerjakan melalui pengamatan secara fisik.
Contoh Ryan Chesser, seorang mahasiswa yang sering mengunjungi Hideaway, sebuah
retoran pizza di luar kampus. Ia membeli sepotong pizza, selada, dan minuman
ukuran sedang dengan biaya $6,50 setiap hari. Objek biaya adalah makan siang
Ryan Chesser. Melalui pengamatan tentang makanan dan minuman yang dikomsumsinya
kita dapat membebankan biaya $6,50. Biaya makan siang tersebut dapat ditelusuri
secara langsung kepada Ryan. Sebagai contoh kedua, misalkan objek biaya adalah
sebuah produk : sepeda. Produk tersebut menggunakan bahan baku dan tenaga
kerja. Mengamati jumlah roda dan bagian lainnya, serta jam tenaga kerja yang
dibutuhkan untuk memproduksi setiap sepeda merupakan hal yang mudah. Penggunaan
bahan baku dan tenaga kerja dapat diamati secara fisik sehingga biayanya dapat
dibebankan langsung pada sepeda tersebut. Idealnya, semua biaya harus
dibebankan pada objek biaya dengan menggunakan penelusuran langsung. Sayangnya,
objek biaya kerap bukan merupakan pengguna sumber daya satu-satunya. Dalam
kasus ini, kita menggunakan penelusuran penggerak dalam membebankan biaya.
b. Pembebanan Biaya Penelusuran Penggerak ( Driver Tracing)
Penelusuran
penggerak (driver tracing) adalah penggunaan penggerak untuk membebankan
biaya pada objek biaya. Di dalam konteks pembebanan biaya, penggerak adalah factor
penyebab yang dapat diamati dan factor penyebab yang mengukur komsumsi sumber
daya objek biaya. Oleh sebab itu, penggerak adalah factor yang menyebabkan
perubahan dalam penggunaan sumber daya dan memiliki hubungan sebab-akibat
dengan biaya yang berhubungan dengan objek biaya. Sebagai contoh, Ryan Chesser
dan temannya yang bernama Shana parker makan siang bersama. Shana dan Ryan
sepakat untuk berbagi biaya makan siang. Mereka memesan pizza ukuran sedang
(terbagi menjadi sepuluh potong) seharga $9, satu gelas besar root beer
seharga $2 (dengan isi untuk lima gelas), dan Shana memesan sepiring kecil
selada seharga $1. Berapa biaya yang harus dibebankan per orang? Perhatikan bahwa pizza dan root
beer dibagi untuk berdua, sedangkan selada adalah “sumber daya” yang hanya
digunakan oleh Shana. Jadi, biaya selada dibebankan melalui penelusuran
langsung ($1 untuk Shana dan $0 untuk Ryan). Untuk membebankan biaya pizza dan root
beer, dipilihlah penggerak : potongan pizza dan dan gelas root beer.
Suatu tariff dihitung per unit sumber daya (sebagaimana diukur oleh penggerak)
; $0,90 per potong pizza ($9/10) dan $0,40 per gelas root beer($2/5).
Kemudian, penggunaan penggerak diamati untuk setiap orang (objek biaya).
Anggaplah Ryan memakan tujuh potong pizza dan meminum tiga gelas root beer,
sedangkan Shana mengonsumsi julah sisanya. Jadi, biaya per orang dihitung
sebagai berikut.
|
Keterangan
|
Shana
|
Ryan
|
|
Selada (penelusuran langsung)
|
$1,00
|
$0,00
|
|
Piza (penelusuran penggerak) :
$0,90 x 3 potong
$0,90 x 7 potong
|
2,70
-
|
-
6,30
|
|
Root beer (penelusuran penggerak) :
$0,40 x 2
gelas
$0,40 x 3
gelas
|
0,80
-
|
-
1,20
|
|
Total
|
$4,50
|
$7,50
|
Contoh sederhana dari pembagian pizza ini
dapat diperluas dalam latar bisnis yang lebih rumit. Inspeksi atas produk
mungkin dapat berupa “piza” yang dibagi secara tepat oleh instrument pemisahan
yang diproduksi dalam pabrik. Biaya inspeksi dapat dibebankan pada instrumen
individual (objek biaya) dengan menggunakan jumlah jam inspeksi(“potongan
piza”) yang dikonsumsi oleh setiap jenis instrumen. Sebagai contoh kedua,
pertimbangkan biaya dari pemantau jantung yang digunakan pasien penyakit
jantung (objek biaya). Pemantau jantung adalah “pizza”, dan jam pemantauan yang
digunakan dapat menjadi “potongan pizza” yang dipilih untuk membebankan biaya
pada penderita penyakit jantung. Jadi, prinsip penelusuran yang dijelaskan pada
contoh pizza dapat dihubungkan langsung dengan proses perhitungan biaya dalam
lingkungan bisnis sesungguhnya.
Penelusuran
penggerak biasanya kurang akurat dibandingkan penelusuran langsung. Akan
tetapi, jika hubungan sebab-akibatnya kuat, maka tingkat keakuratannya yang
lebih tinggi dapat diperkirakan. Sebagai contoh, pertimbangkan penggeraknya
adalah jumlah potongan pizza. Anggaplah ukuran potongan tersebut tidak
benar-benar sama dan Shana memilih memakan tiga potongan yang lebih kecil.
Jadi, biaya pizza sebenarnya kurang dari $2,70. Walaupun demikian, jika
perbedaan ukuran potongan pizza tidak terlalu besar, biaya tersebut masih bias
dikatakan akurat. Hal ini mengilustrasikan pentingnya memilih,
menspesifikasikan, dan mengukur penggerak. Penelusuran penggerak dapat
menghasilkan pembebanan biaya yang kurang akurat daripada penelusuran langsung.
Perhatian yang lebih penting adalah situasi saat objek biaya bukan merupakan
pemakai sumber daya satu-satunya, dan tidak ada hubungan sebab-akibat yang
dapat ditetapkan (atau adanya kendala biaya jika menggunakan hubungan
sebab-akibat).
3. Membebankan Biaya Tidak Langsung (Alokasi)
Biaya tidak
langsung adalah biaya-biaya yang tidak dapat dibebankan pada objek-objek biaya,
baik dengan menggunakan penelusuran langsung maupun penggerak.
Hal ini berarti tidak ada hubungan
sebab-akibat antara biaya dan objek biaya., atau penelusuran tidak layak
dilakukan secara ekonomi. Pembebanan biaya tidak langsung pada objek biaya
disebut alokasi. Karena tidak terdapat hubungan sebab-akibat, pengalokasian
biaya tidak langsung didasarkan pada kemudahan atau beberapa asumsi yang
berhubungan. Sebagai contoh, anggaplah Blue Ribbon Baking Company memasang lini
kue tart kopi mini di gedung pabriknya
yang sekarang. Pertimbangkan biaya pemanasan dan penerangan ruangan
pabrik yang memproduksi dua produk yang berbeda. Misalnya, biaya untilitas
dibebebankan pada kedua lini produk. Dalam hal ini, sudah jelas bahwa hubungan
sebab-akibat tentu sulit dilihat. Cara mudah untuk pengalokasian biaya adalah
hanya dengan membebankannya secara proporsional pada jam tenaga kerja langsung
yang digunakan setiap produk. Pembebanan biaya tidak langsung yang digunakan
setiap produk. Pembebanan biaya tidak langsung pada objek biaya secara arbitrer
mengurangi keakuratan pembebanan biaya secara keseluruhan. Oleh sebab ini,
kebijakan perhitungan biaya yang terbaik mungkin hanya membebankan biaya (yang
ditelusuri), langsung pada objek biaya. Akan tetapi, alokasi biaya tidak
langsung mungkin bermanfaat untuk tujuan lain di samping keakuratan. Sebagai
contoh, pengalokasian biaya tidak langsung pada produk (objek biaya) mungkin
dibutuhkan untuk memenuhi peraturan pelaporan eksternal. Walaupun demikian,
manfaat manajerial dari pembebanan biaya umumnya lebih baik dalam hal
keakuratan. Jadi, paling tidak, penelusuran dan alokasi pembebanan biaya
sebaiknya dilaporkan secara terpisah.
D.
Harga Pokok Produk dan Jasa
Keluaran (output) organisasi merupakan salah satu objek biaya
terpenting. Ada dua jenis keluaran, yaitu produk berwujud dan jasa. Produk
berwujud (tangible product) adalah barang yang dihasilkan dengan
mengubah bahan baku melalui penggunaan tenaga kerja dan masukan (input),
modal, seperti prabrik, lahan, dan mesin. Televisi, hamburger, mobil, komputer,
pakaian, dan perabotan adalah contoh produk berwujud. Jasa adalah tugas atau
aktivitas yang dilakukan untuk pelanggan atau aktivitas yang dijalankan oleh
pelanggan dengan menggunakan produk atau fasilitas organisasi. Jasa juga
diproduksi dengan menggunakan bahan, tenaga kerja, dan masukan modal.
Perlindungan asuransi, perawatan kesehatan, perawatan gigi, jasa pemekaman, dan
akuntansi adalah contoh berbagai aktivitas jasa yagn dilakukan untuk pelanggan. (Don R.
Hansen, 2009)
Jasa berbeda
dengan produk berwujud dalam empat dimensi penting: tidak berwujud (intangibility),
tidak tahan lama (perishability), tidak dapat dipisahkan (inseparabaility),
dan tidak selalu sama (heterogenity).
1.
Tidak berwujud berarati pembeli jasa tidak dapat melihat,
merasakan, mendengar, atau mencicipi suatu jasa sebelum jasa tersebut dibeli,
jadi, jasa adalah produk tidak berwujud.
2.
Tidak tahan lama berarti jasa tidak dapat disimpan untuk kegunaan
masa depan oleh pelanggan ada beberapa kasus yang tidak umum, yaitu saat
barang-barang berwujud tidak dapat disimpan, tetapi harus dikonsumsi saat
diadakan. Meskipun jasa tidak dapat disimpan, beberapa jasa seperti operasi
pelastik memberi pengaruh jangka panjang dan tidak perlu diulangi oleh
pelanggan tersebut. Jasa lainya memberi pengaruh jangka pendek dan menciptakan
pelanggan setia. Contoh jasa yang berulang adalah jasa rekening giro, dan jasa
penjagaan rumah, dan binatu.
3.
Tidak dapat dipisahkan berarti produsen dan pembeli jasa biasanya
harus melakukan kontak langsung saat terjadi pertukaran. Akibatnya jasa kerap
tidak dapat dipisahkan dari produsennya. Akan tetapi, produsen produk berwujud
tidak melakukan langsung dengan pembeli produk mereka.
4.
Tidak selalu sama berarti terdapat peluang variasi yang lebih besar
pada penyelenggaraan jasa daripada produksi produk. Penyelenggara jasa bisa
saja dipengaruhi oleh pekerjaan yang dilakukan, bantuan individu lainnya yang
bekerja dengan mereka, pendidikan dan pengalaman mereka, sektor-sektor pribadi
seperti kehidupan rumah tangga. Faktor-faktor ini membuat penyelenggaraan
tingkat jasa yang konsisten menjadi sulit.
Pengukuran produktivitas dan kualitas pada perusahaan juga harus
dilakukan secara terus-menerus dan sensitif terhadap faktor-faktor tersebut.
Perbedaan ini memengaruhi jenis informasi yang diperlukan untuk perencanaan,
pengendalian, dan pengambilan keputusan
Organisasi yang
membuat produk berwujud disebut organisasi manufaktur. Organisasi yang
memproduksi produk tidak berwujud disebut organisasi jasa. Manajer dari kedua
jenis organisasi ini perlu mengetahui besar biaya setiap produk.
Harga pokok produk yang akurat adalah penting untuk analisis
profabilitas dan keputusan strategis yang berkenaan dengan desain produk,
penetapan harga, dan bauran produk. Biaya setiap produk berlaku untuk produk
berwujud dan tidak berwujud. Jadi, harga pokok produk mengacu pada produk
berwujud dan tidak berwujud.
1.
Biaya yang berbeda untuk tujuan yang berbeda
Harga pokok produk (product cost) adalah pembebanan biaya
yang mendukung tujuan manajerial yang spesifik.
Arti “harga pokok produk”
bergantung pada tujuan manajerial yang sedang berusaha dicapai. Hal ini mengilustrasikan
prinsip manajemen biaya yang findamental, yaitu “biaya yang berbeda untuk
tujuan yang berbeda”. Rantai nilai internal perusahaan adalah seperangkat
aktivitas yang dibutuhkan untuk mendesain, mengembangkan, memproduksi,
memasarkan, mendistribusikan, dan melayani produk. Rantai nilai harga pokok diperoleh
dengan membebankan biaya dari berbagai aktivitas yang mendefenisikan rantai
nilai, kemudian membebankan biaya dari berbagai aktivitas itu pada produk. Jadi
hanya aktivitas operasional dalam rantai nilai (produksi, pemasaran, dan
layanan pelanggan) ang penting, dan pembebanan biaya aktivitas pada produk
mendefenisikan harga pokok produk operasional.
2.
Harga pokok produk dan pelaporan keuangan Eksternal
Salah satu tujuan
utama manajemen biaya adalah perhitungan harga pokok produk untuk pelaporan
keuangan eksternal. Dalam perhitungan harag pokok produk, konvesi yang berlaku
secara eksternal menyatakan biaya dapat diklasifikasikan menurut tujuan khusus
atau fungsi yang hendak dicapai. Biaya dikelompokan dalam dua kategori
fungsional utama: produksi dan non produksi: biaya produksi adalah biaya yang
berkaitan dengan pembuatan barang dan penyediaan jasa. Biaya non produksi
adalah biaya yang berkaitan dengan fungsi desain pengembangan, pemasaran,
distribusi, layanan pelanggan, dan administrasi umum.
Biaya non produksi
dapat dibagi dalam kategori umum: biaya penjualan yang mencakup biaya
pemasaran, distribusi, dan layanan pelanggan; pembiayan administrasi yang
mencakup biaya desain, pengembangan dan administrasi umum.
Untuk barang berwujud, biaya produksi dan non produksi ering
disebut sebagai biaya manufaktur dan non manufaktur.
Biaya produksi dapat diklasifikasikan lebih lanjut sebagai bahan
langsung, tenaga kerja langsung, over head. Dalam pelaporan keuangan eksternal,
hanya ketiga elemen biaya ini yang dapat dibebankan pada produk.
a.
Biaya Langsung
Biaya langsung adalah bahan
yang dapat ditelusuri secara langsung pada barang atau jasa yang sedang
diproduksi. Biaya bahan ini dapat langsung dibebankan pada produk karena
pengamatan secara fisik dapat digunakan untuk mengukur kuantitas yang
dikonsumsi setiap produk bahan yang menjadi bagian produk berwujud atau bahan
yang digunakan dalam penyediaan jasa umumnya diklasifikasikan sebagai bahan
langsung. Sebagai contoh, besi pada mobil, kayu pada perabotan, alkohol pada
parfum, kain pada jeans, kawat untuk operasi, peti mati untuk jasa penguburan,
dan makanan pada perusahaan penerbangan semuanya merupakan bahan langsung.
b.
Tenaga kerja langsung
Tenaga kerja langsung adalah balas jasa yang diberikan kepada
karyawan pabrik yang manfaatnya dapat diidentifikasikan atau diikuti jejaknya
pada produk tertentu yang dihasilkan perusahaan. (Anwar, 2010)
Sepertinya
halnya bahan langsung, pengamat secara fisik dapat digunakan dalam mengukur
kualitas karyawan yang terlibat dalam memproduksi suatu produk dan jasa.
Karyawan yang mengubah bahan baku menjadi produk atau menyediakan jasa kepada
pelanggan diklasifikasikan sebagai tenaga kerja langsung. Komponen biaya tidak langsung adalah biaya
gaji & upah pekerja tidak langsung,
tunjangan makanan& transportasi, lembur, BPJS, dan lain-lain. (wardoyo,
2016)
c.
Over Head
Semua biaya produksi selain bahan langsung dan tenaga kerja
langsung dikelompokan dalam satu kategori yang disebut overhead. Pada
perusahaan manufaktur, overhead juga dikenal sebagai beban pabrik (factory
burden) atau overhead manufaktur (manufacturing overhead). Kategori
biaya overhead memuat berbagai hal. Selain bahan langsung dan tenaga kerja
langsung, banyak masukan diperlukan untuk membuat produk. (Suedi, 2012)
Bahan langsung yang merupakan bagian tidak signifikan dari produk
jadi umumnya dimasukkan dalam kategori overhead sebagai jenis khusus dari bahan
tidak langsung hal ini dibenarkan atas dasar biaya dan kepraktisan. Biaya
penelusuran lebih besar dibandingkan dengan manfaat dari peningkatan
keakuratan. Biaya lembur tenaga kerja langsung biasa juga dibebankan pada
overhead. Dasar pemikirannya adalah tidak semua operasi produksi tertentu
secara khusus dapat diidentifikasi sebagai penyebeb lembur. Oleh sebab itu,
biaya lembur adalah hal yang umum bagi semua operasi produksi sehingga
merupakan biaya manufaktur tidak langsung.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa Overhead Pabrik merupakan semua biaya-biaya
diluar biaya bahan langsung dan biaya tenaga kerja langsung yang sulit
ditelusuri atau diidentifikasi dalam produk akhir. (Rahayu, 2015)
Sebagai contoh
d.
Biaya utama dan Konversi
Kombinasi dari berbagai biaya produksi mengarah pada konsep biaya
konversi dan biaya utama. Biaya utama (prine cost) adalah jumlah dari
biaya bahan langsung dan biaya tenaga kerja langsung. Biaya konversi (covertion
cost) adalah jumlah dari biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead.
Untuk perusahaan manufaktur,biaya konversi bisa diinterpretasikan sebagai biaya
untuk mengonversi bahan baku menjadi produk akhir.
e.
Biaya penjualan dan Administrasi
Biaya nonproduksi terdiri atas dua kategori umum: biaya penjualan
dan biaya administrasi. Untuk pelaporan keuangan eksternal,biaya penjualan dan
administrasi disebut biaya yang tidak dapat diinventarisasi ataubiaya periode.
Biaya yang tidak dapat diinventarisasi dibebankan dalam periode waktu
terjadinya. Jadi,biaya-biaya ini tidak ada satupun yang dapat dibebankan pada
produk atau muncul sebagai bagian dari nilai persediaan yang dilaporkan pada
neraca.
Biaya-biaya yang diperlukan untuk memasarkan,mendistribusikan,dan
melayani produk atau jasa merupakan biaya pemasaran (penjualan). Biaya ini
sering disebut sebagai biaya mendapatkan pesanan (order getting cost) dan biaya memenuhi pesanan (order filling
cost).
Seluruh biaya yang berkaitan dengan penelitian,pengembangan dan
administrasi umum pada organisasi yang tidak dapat dibebankan pada pemasaran
ataupun produksi,dikelompokkan sebagai biaya administrasi. Administrasi umum
bertanggung jawab dalam memastikan bahwa berbagai aktivitas organisasi
terintegrasi secara tepat sehingga misi perusahaan
secara keseluruhan dapat
terealisasi. Biaya administrasi umum meliputi semua biaya dalam
rangka melaksanakan fungsi administrasi dan umum yaitu biaya dalam rangka penentuan
strategi dan kebijakkan, pengarahan, dan pengendalian kegiatan agar berdaya guna
dan berhasil guna. (Supriyono, 1999)
f.
Laporan Keuangan Eksternal
Demi memenuhi kebutuhan pelaporan eksternal,biaya-biaya
diklasifikasikan berdasarkan fungsi. Ketika menyusun laporan laba rugi,biaya
produksi dipisahkan dari biaya penjualan dan administrasi. Hal ini dilakukan
karena biaya produksi dipandang sebagai harga pokok produk,sedangkan biaya
penjualan dan administrasi dipandang sebagai biaya periode. Jadi,biaya produksi
yang melekat pada produk yang terjua diakui sebagai beban atau harga pokok
penjualan pada laporan laba rugi. Biaya produksi yang melekat pada produk yang
belum terjual dilaporkan sebagai persediaan di neraca.
Beban penjualan dan administratif dianggap sebagai biaya periode
dan harus dikurangi setiap periode sebagai beban;hal ini tidak tampak pada
neraca.
g.
Laporan Laba Rugi: Perusahaan Manufaktur
Laporan laba rugi berdasarkan klasifikasi fungsional pada
perusahaan manufaktur. Pemasukan yang dihitung menurut klasifikasi
fungsional sering disebut sebagai perhitungan pemasukan biaya absorpsi (full
costing) karena semua biaya manufaktur dibebankan pada produk.
Menurut pendekatan perhitungan biaya absorpsi, beban dipisahkan
menurut fungsi, kemudian dikurangi dari penjualan untuk menghasilkan laba
sebelum pajak. Harga pokok penjualan (cost of goods sold) adalah biaya
bahan langsung, tenaga kerja langsung, dan overhead yanag melekat pada
unit yang terjual. Untuk menghitung haraga pokok penjualan pertama-tama, harga
pokok produksi perlu ditentukan.
h.
Harga pokok produksi
Harga pokok produksi (cost of goods manufacture)
mencerminkan tatal biaya barang yang diselesaikan selama periode bejalan. Biasa
yang hanya dibebankan pada barang yang diselesaikan adalah biaya manufaktur
dari bahan langsung, tenaga kerja langsung, dan overhead. Perincian dari
pembebanan biaya ini diuraikan dalam daftar pendukung yang disebut sebagai
laporan harga pokok produksi. Jika harga pokok produksi adalah untuk produk
tunggal, maka biaya rata-rata perunit dapat dihitung dengan membagi harga pokok
porduksi dengan unit yang diproduksi.
Barang
dalam proses (word in process) terdiri atas semua unit yang telah
diselesaikan sebagian dalam produksi pada titik waktu waktu tertentu. Barang
dalam proses awal terdiri atas unit yang diselesaikan sebagian dan telah ada
pada awal periode. Barang dalam proses akhir terdiri atas unit yang ada pada
akhir periode.
Dalam laporan harga pokok produksi, biaya unit yng diselesaikan
sebagian dilaporkan sebagai biaya barang dalam proses awal dan biaya barang
dalam proses akhir. Biaya barang dalam proses awal mencerminkan biaya
manufaktur yang tercatat dari periode sebelumnya, sedangkan biaya dalam proses
akhir mencerminkan biaya manufaktur yang akan dicatat pada periode selanjutnya.
Pada kedua kasus, tambahan biaya manufaktur harus dikeluarkan untuk
menyelesaikan unit-unit barag dalam proses.
i.
Laporan laba rugi: perusahaan jasa
Pada perusahaan jasa, perhitungan jasa yang terjual berbeda dari
biaya penjualan dalam perusahaan manufaktur. Sebagaimana ditunjukan dalam
laporan laba rugi tersebut, perusahaan jasa tidak memiliki persediaan awal atau
akhir barang jadi. Berbeda dari perusahaan manufaktur, perusahaan jasa tidak
memiliki persediaan barang jadi karena tidak mungkin menyimpan jasa. Jadi,
kalau dibandingkand dengan perusahaan manufaktur, biaya penjualan jasa dapat
disamakan dengan harga pokok produksi.
E. Sistem Akuntansi Manajemen (FBM vs ABM)
Sistem
akuntansi manajemen dapat diklasifikasikan secara umum sebagai sistem
berdasarkan fungsi dan system berdasarkan aktivitas. Pendekatan berdasarkan
fungsi dan aktivitas dapat ditemukan dalam praktik nyata. System akuntansi
manajemen berdasarkan fungsi (functional based management - FBM) telah
dikenal dari tahun 1900-an dan masih digunakan secara luas dalam sektor manufaktur dan jasa.
Sistem
akuntansi manajemen berdasarkan aktifitas (activity based management –
ABM) merupakan sistem yang lebih baru (dikembangkan dalam tiga dekade
terakhir). Sistem manajemen biaya berdasarkan aktifitas juga digunakan secara
luas dan pemanfaatan semakin tinggi, khususnya di antara organisasi-organisasi
yang memiliki beragam produk dan pelanggan, produk yang lebih rumit, siklus
waktu produk yang lebih pendek peningkatan persyaratan kualitas, dan tekanan
persaingan yang ketat. Contoh sistem berdasarkan aktifitas ditemukan dalam
industri medis (seperti rumah sakit dan laboratorium medis), industri kuangan
(seperti bank dan bursa saham), industri transportasi (seperti penerbangan dan
kereta api), dan semua jenis manufaktur (seperti perusahaan elektronik dan
mobil).
Blocher et al (2011:12) menjelaskan 2
keunggulan ABM yaitu:
a) Activity-Based
Manajemen mengukur efektivitas proses dan aktivitas
bisnis kunci dan mengidentifikasi proses dan aktivitas tersebut bisa diperbaiki
unutk menurunkan biaya dan meningkatkan nilai bagi pelanggan.
b) Activity-Based
Management memperbaiki fokus manajemen dengan cara mengalokasian sumber daya untuk
menambah nilai aktivitas kunci, pelanggan, dan metode untuk mempertahankan
keunggulan bersaing perusahaan. (Parengkuan, 2013)
Elemen utama dari model FBM adalah fungsi,
sedangkan elemen utama dari model ABM adalah aktifitas. Fungsi-fungsinya
biasanya dikelompokkan dalam unit-unit organisasional, seperti departemen dan
pabrik (contohnya : teknik, pengendalian kualitas, dan perakitan adalah
fungsi-fungsi yang diatur dalam departemen). Aktifitas-aktifitas dengan tujuan
umum dikelompokkan bersama dalam suatu bentuk proses. Sebagai contoh, pembelian
barang, penerimaan barang, dan pembayaran barang yang diterima adalah aktifitas
utama yang menggambarkan proses pengadaan persediaan. Pengendalian tiap dimensi
akan memberikan pandangan mendalam yang signifikan atas perbedaan kedua model
akuntansi manajemen tersebut.
1. Tinjauan biaya
FBM
Dalam sistem akuntansi FBM, biaya-biaya
bersumber daya dibebankan pada unit-unit yang berfungsi, kemudian pada produk.
Dalam pembebanan biaya, penelusuran langsung dan penelusuran penggerak
digunakan.
Namun
penelusuran pengerak dalam sistem FBM hanya menggunakan penggerak produksi
(tingkat unit) yang merupakan pengukuran konsumsi yang sangat berkolerasi
dengan keluaran produksi. Jadi unit-unit produksi produk atau penggerak yang
sangat berkolerasi dengan unit-unit yang produksi, seperti jam kerja dari
tenaga kerja langsung, bahan langsung, dan jam kerja mesin adalah hanya
penggerak yang diasumsikan penting. Karena sistem FBM hanya menggunakan
penggerak yang berhubungan dengan fungsi produksi untuk membebani biaya,
pendekatan pembebanan biaya ini dianggap sebagai perhitungan biaya berdasarkan
produksi atau fugsi (functional based costing – FBC). Produksi atau penggerak tingkat unit
dimana FBC sering bergantung padanya adalah bukan satu-satunya penggerak yang
menjelaskan hubungan sebab-akibat. Selain penggerak produksi, penggerak yang
mendeskripsikan hubungan sebab-akibat dianggap sebagai penggerak tingkat non-unit.
Sebagai contoh, penggerak produksi seperti unit yang diproduksi atau jam kerja
tenaga kerja langsung mungkin tidak memiliki hubungan apapun dengan biaya
pembelian bahan baku. Pada kenyataannya, jumlah pesanan pembelian bisa menjadi
ukuran yang tepat dari konsumsi tiap produk. Namun, biaya pembelian dalam
sistem FBC dibebankan dengan menggunakan suatu ukuran seperti unit yang
diproduksi atau jam kerja tenaga kerja langsung. Dalam hal ini, pembebanan
biaya yang dibuat yang dibuat harus diklasifikasikan sebagai alokasi (ingat
kembali bahwa alokasi adalah pembebanan biaya berdasarkan hubungan yang
diasumsikan atau berdasarkan kemudahan). Lebih jauh lagi, jika biaya tingkat
non-unit seperti pembelian signifikan, perhitungan biaya berdasarkan asumsi dapat
dideskripsikan sebagai alokasi yang intensif.
2. Tinjauan biaya
ABM
Dalam perhitungan biaya berdasarkan aktifitas
(activity based costing – ABC), biaya ditelusuri hingga aktifitas,
kemudian produk. Sebagaimana perhitungan biaya berdasarkan fungsi, penelusuran
langsung dan penelusuran penggerak digunakan. Namun, peranan penelusran
penggerak secara signifikan diperluas dengan mengidentifikasikan dan
menggunakan penggerak yang tidak berhubungan dengan volume produk yang
diproduksi (penggerak berdasarkan non-unit). Jadi, pembebanan biaya berdasarkan
aktifitas menekankan pada penelusuran alokasi; bahkan, bisa disebut sebagai
penelusuran yang intensif.
Penggunaan penggerak unit dan non-unit
meningkatkan keakuratan pembebanan biaya, kualitas keseluruhan, dan informasi
biaya yang relevan. Sebagai contojh, pertimbangkanlah pembebanan biaya dari
aktifitas.”menggerakkan bahan mentah dan barang setengah jadi dari satu titik
ke titik lain dalam suatu pabrik”. Jumlah penggerak yang dibutuhkan untuk suatu
produk adalah ukuran yang jauh lebih baik dari permintaan produk untuk
aktifitas penanganan bahan dari pada jumlah unit yang diproduksi. Pada
kenyataannya, jumlah unit yang diproduksi bisa jadi tidak berpengaruh pada
pengukuran permintaan produk untuk penanganan bahan. (satu kelompok yang
terdiri atas 10 unit bisa membutuhkan aktifitas penanganan bahan yang sama
dengan satu kelompok yang terdiri atas 100 unit).
3. Tinjauan
efesiensi operasional FBM
Penyediaan
informasi untuk perencanaan dan pengendalian adalah tujuan lain dari akuntansi
manajemen. Pendekatan manajemen berdasarkan fungsi untuk pengendalian
membebankan biaya pada unit organisasional, kemudian menuntut tanggung jawab
manajer unit organisasional untuk mengendalikan biaya yang dibebankan. Kinerja
diukur dengan membandingkan hasil aktual dengan standar atau hasil yang
dianggarkan. Penekanannya adalah ukuran keuangan dari kinerja (ukuran
non-keuangan biasanya diabaikan). Manajer diberi penghargaan berdasarkan
kemampuan mereka untuk mengendalikan biaya. Jadi, pendekatan berdasarkan fungsi
menelusuri biaya individu yang bertanggung jawab atas biaya yang terjadi.
Sistem penghargaan digunakan untuk memotivasi individual ini untuk mengelola
biaya dengan meningkatkan efisiensi operasional unit organisasi mereka. Pendekatan
ini menganggap bahwa memaksimalkan kinerja organisasi secara keseluruhan
tercapai dengan memaksimalkan kinerja subunit organisasi individual (disebut
sebagai pusat pertanggung jawaban).
4. Tinjauan
efesiensi operasional ABM
Secara
signifikan, sub sistem pengendalian berdasarkan aktifitas berbeda dengan sistem
berdasarkan fungsi. Penekanan berdasarkan fungsi adalah pada pengelolaan biaya.
Akan tetapi, muncul persetujuan bahwa aktifitas manajemen bukan biaya adalah
kunci sukses pengendalian. Manajemen berdasarkan aktifitas berfokus pada
pengeloaan aktifitas dengan tujuan memperbaiki nilai yang diterima pelanggan
dan laba yang diterima dengan menyediakan nilai ini.
Hal
ini meliputi analisis penggerak, analisis aktifitas, dan evaluasi kinerja,
serta penggunaan perhitungan biaya berdasarkan aktifitas sebagai sumber
informasi utama. Tinjauan proses berkaitan dengan identifikasi faktor-faktor
penyebab biaya suatu aktifitas (menjelaskan penyebab munculnya biaya), apa yang
telah dilakukan (mengidentifikasi aktifitas), serta evaluasi kinerja pekerjaan
hasil yang dicapai (seberapa baik aktifitas dikerjakan). Jadi pengendalian
berdasarkan aktifitas membtuthkan informasi yang terperinci mengenai aktifitas.
Pendekatan
baru ini berfokus pada akuntabilitas dari aktifitas daripada biaya, dan
menekankan maksimalisasi kinerja sistem secara luas daripada kinerja individu.
Aktifitas lintas fungsi dan garis dapertemen adalah sistem meluas dalam fokus
tertentu pendekatan global untuk mengendalikannya. Intinya, bentuk pengendalian
ini mengakui bahwa memaksimalkan efisiensi dari sub unit individual tidak
selalu mengarah pada efisiensi maksimum untuk sitem secara keseluruhan.
Pendekatan signifikan berdasarkan aktifitas, ukuran keuangan dan non-keuangan
kinerja adalah penting.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Biaya
adalah kas atau nilai setara kas yang dikorbankan untuk mendapatkan barang atau
jasa yang diharapkan memberi manfaat saat ini atau di masa depan bagi
organisasi. Objek biaya (Cost Object) adalah berbagai produk, jasa, pelanggan, aktivitas,
atau unit organisasi dimana biaya dibebankan untuk beberapa tujuan manajemen
tertentu.
Pembebanan biaya secara akurat pada objek
biaya sangatlah penting. Keakuratan tidak dievaluasi berdasarkan pengetahuan
tentang biaya yang “sebenarnya”. Keakuratan adalah suatu konsep yang relative
dan harus dilakukan secara wajar dan logis terhadap penggunaan metode pembebanan
biaya. Tujuannya adalah engukur dan membebankan biaya dari sumber daya yang
dikonsumsi objek biaya sebaik mungkin.Penelusuran penggerak (driver tracing)
adalah penggunaan penggerak untuk membebankan biaya pada objek biaya. Di dalam
konteks pembebanan biaya, penggerak adalah factor penyebab yang dapat diamati
dan factor penyebab yang mengukur komsumsi sumber daya objek biaya. Biaya tidak langsung adalah biaya-biaya yang tidak
dapat dibebankan pada objek-objek biaya, baik dengan menggunakan penelusuran
langsung maupun penggerak.
Hal ini berarti tidak ada hubungan
sebab-akibat antara biaya dan objek biaya., atau penelusuran tidak layak
dilakukan secara ekonomi. Pembebanan biaya tidak langsung pada objek biaya
disebut alokasi. Karena tidak terdapat hubungan sebab-akibat, pengalokasian
biaya tidak langsung didasarkan pada kemudahan atau beberapa asumsi yang
berhubungan.
Sistem
akuntansi manajemen dapat diklasifikasikan secara umum sebagai sistem
berdasarkan fungsi dan system berdasarkan aktivitas. Pendekatan berdasarkan
fungsi dan aktivitas dapat ditemukan dalam praktik nyata. System akuntansi
manajemen berdasarkan fungsi (functional based management - FBM) telah
dikenal dari tahun 1900-an dan masih digunakan secara luas dalam sektor manufaktur dan jasa.
Sistem
akuntansi manajemen berdasarkan aktifitas (activity based management –
ABM) merupakan sistem yang lebih baru (dikembangkan dalam tiga dekade
terakhir). Sistem manajemen biaya berdasarkan aktifitas juga digunakan secara
luas dan pemanfaatan semakin tinggi, khususnya di antara organisasi-organisasi
yang memiliki beragam produk dan pelanggan, produk yang lebih rumit, siklus
waktu produk yang lebih pendek peningkatan persyaratan kualitas, dan tekanan
persaingan yang ketat.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, K. (1997 ). Akuntansi
manajemen . jakarta : PT RajaGrafindo Persada.
Anwar, C. (2010). Harga pokok produksi dalam kaitannya dengan penentuan
harga jual untuk pencapaian target laba analisis. jurnal akuntansi &
keuangan , 83.
Blocher, d. (2013). Manajemen biaya. Buku 1 Edisi kelima .
Jakarta : Salemba Empat .
Don R. Hansen, M. M. (2009). akuntansi manajerial . jakarta :
salemba empat .
Moniaga, R. (2014). Alokasi Biyaa bersama dalam menentukan laba bruto
per produk . Jurnal Emba Vol.2 No 2 , 734.
Parengkuan, M. (2013). indentifikasi non value added activity melalui
ABM untuk meningkatkan efisiensi hotel Sedona manado. Jurnal Emba Vol 1 No
3 , 111.
Rahayu, Y. (2015). Analisis pembebanan biaya overhead pabrik terhadap
harga jual produk . Ecodemika, Vol III.No.2 , 552.
Suedi, B. (2012). peranan akuntansi manajemen dalam pengambilan
keputusan manajerial. Jurnal STIE semarang Vol.4 No2 , 82.
Supriyono. (1999). akuntansi manajemen 1. Yogyakarta: BPFE-
YOGYAKARTA.
wardoyo, D. u. (2016). analisis perhitungan harga pokok produksi dan
penentuan harga jual atas produk . jurnal riset manajemen dan bisnis Vol.1
No 2 , 187.
Komentar
Posting Komentar